Minggu, 24 Agustus 2014

RAMAYANA

Ramayana [1]

Mendung di bumi Ayodya Ada sebuah istana bagaikan surga, dipenuhi oleh orang-orang bijak serta luhur perbuatan, di Ayodhya-lah yang cukup terkenal di dunia, itulah istana Sri Baginda Prabu Dasarata Keindahan surga benar-benar terkalahkan, oleh puri Ayodhya yang tiada bandingannya, di sana selalu dalam keadaan aman sentosa, pada waktu musim hujan maupun pada musim kemarau Berbagai batu-batuan mulia, emas perak beserta permata terdapat di sana, itu laksana gigi keraton Ayodhya yang putih, seolah-olah tersenyum, surga dapat dikalahkannya Ada sebuah balai yang bertahtakan permata, dikelilingi oleh taman yang sangat menakjubkan, tempat para gadis-gadis bercengkerama, bagai bidadari di gunung Mahameru (Himalaya) Permata manik-manik tak terbilang banyaknya, semua berkilauan terletak pada balai peninjauan, seperti sungai Gangga dari gunung Himawan, kelihatan berkilauan dan sungguh menakjubkan Ada seorang Raja besar, dengarkanlah. Terkenal di dunia, musuh baginda semua tunduk. Cukup mahir akan segala filsafat agama, Prabu Dasarata gelar Sri Baginda, tiada bandingannya Beliau ayah Sang Triwikrama, maksudnya ayah Bhatara Wisnu yang sedang menjelma akan menyelamatkan dunia seluruhnya. Demikian tujuan Sang Hyang Wisnu menjelma menjadi manusia. (Dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Ramayana) Dan pada saat itu memang negri Ayodya sangat terkenal sebagai negara besar yang dikagumi dan dihormati oleh kawan dan disegani oleh lawan. Rakyatnya hidup aman, tentram dan makmur dibawah pemerintahan rajanya, Prabu Dasarata. (Tak heran dalam sebuah versi tentang asal-usul pemberian nama kota Yogyakarta, bila pendirinya yaitu Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwana I memberi nama kerajaan dengan kata Yodya dengan harapan agar Yodya menjadi aman dan tentram yang kemudian di tambahkan dengan kata “karta” yang berarti makmur. Kemudian ditambahkan pula dengan “Hadiningrat” dan seiring dengan berjalan dengan waktu hingga sekarang terkenal dengan sebutan Yogyakarta Hadingingrat) Namun saat ini Ayodya tengah di selimuti oleh mendung. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Sang Raja, Prabu Dasarata. Telah menjadi rahasia umum, bahkan telah menjadi pembicaraan rakyat luas bahwa telah terjadi ketidak harmonisan di dalam istana kerajaan. Dan Prabu Dasarata-pun menyadari hal tersebut. Dan untuk memastikannya saat di pasewakan agung yang dihadiri oleh para pejabat negara Ayodya, ketika hal itu ditanyakan kepada Patih Tameng Gita, tanpa tedeng aling aling, Sang Patih mengungkapkan hal tersebut dengan gamblang bahwa rakyat melihat sesuatu yang kurang baik terhadap hubungan antara tiga orang permaisuri Sang Raja. Hubungan yang kurang harmonis antara ketiganya terlihat sangat kentara. Apakah ada persaingan antara ketiga istri Prabu Dasarata ini ? Seperti diketahui, bahwa Prabu Dasarata mempunyai tiga orang istri yaitu Dewi Ragu, Dewi Kekayi dan Dewi Sumitra. Dewi Ragu (pedalangan Jawa) dikenal pula dengan sebutan Kusalya atau Dewi Sukasalya (Pustaka Raja). Ia putra Prabu Banaputra, raja negara Ayodya dengan permaisuri Dewi Barawati, putri Prabu Banawa. Dewi Kusalya berwajah sangat cantik, anggun penampilannya dan diyakini sebagai titisan Bathari Sri Widowati. Saat berusia remaja, Dewi Kusalya menderita penyakit lumpuh yang tak tersembuhkan oleh para tabib. Prabu Banaraja akhirnya mengeluarkan sayembara, barang siapa yang dapat menyembuhkan penyakit Dewi Kusalya dialah yang akan menjadi jodohnya. Penyakit Dewi Kusalya akhirnya dapat disembuhkan oleh Resi Rawatmaja, brahmana dari pertapaan Puncakmolah yang memiliki Cupu Astagina beriisi air mujarab Mayamahadi pemberian Sanghyang Narada. Secara garis keturunan, Resi Rawatmeja terhitung masih paman sendiri. Peristiwa tersebut membangkitkan amarah Prabu Dasamuka raja negara Alengka yang langsung menyerang Ayodya, membunuh Prabu Banaputra. Prabu Dasamuka juga mengejar Dewi Kusalya ke pertapaan Puncakmolah dan membunuh Resi Rawatmaja. Dewi Kusalya yang berhasil meloloskan diri akhirnya sampai ke pertapaan Yogisrama, di hutan Dandaka meminta pertolongan Resi Yogiswara. Di pertapaan Yogisrama itulah Dewi Kusalya bertemu dengan Dasarata, calon suaminya yang telah ditetapkan oleh Dewa. Dewi Kusalya kemudian dinikahkan dengan Dasarata oleh Resi Yogiswara. Setelah itu mereka kembali ke negara Ayodya untuk membangun negara itu dari puing-puing kehancuran.

Ramayana [2]

Sebagai keturunan langsung dari raja Ayodya, maka keterikatan dan rasa cintanya kepada tanah kelahiran yang membesarkannya, tentu tidak perlu dipertanyakan lagi keabsahannya. Apalagi Dewi Ragu pernah mengalami pahit getirnya kehidupan, saat negaranya diporak porandakan oleh bala pasukan dari negri Ngalengka dan menyaksikan bagaimana ayahnya dan mantan suaminya di bunuh secara kejam oleh Rahwanaraja. Dan pada dasarnya, Dewi Ragu memang memiliki sifat terpuji, tenang dalam pembawaan, welas asih dan cenderung lebih suka mengalah untuk menghindarkan pertikaian. Lain halnya dengan istri Dasarata yang kedua, Dewi Kekayi. Kekayi adalah putri Prabu Kekaya, raja negara Padnapura. Menurut cerita, Dewi Kekayi sebenarnya adalah putri Prabu Samresi, raja Wangsa Hehaya yang mati terbunuh dalam pertempuran melawan Ramaparasu. Dan Dewi Kekayi yang masih bayi pada saat itu, berhasil diselamatkan oleh emban Matara dan kemudian diangkat anak oleh Prabu Kekaya. Hingga pada suatu saat, di sebuah peperangan yang melibatkan Prabu Dasarata, Kekayi menanamkan budi kepada Raja Ayodya. Ditengah ramainya pertempuran, tak sadar salah satu roda kereta yang dibawa oleh Prabu Dasarata terlepas. Sebenarnyalah Kekayi sangat pandai dalam ilmu peperangan dan saat menghadapi saat kritis tersebut, Kekayi menyelamatkan jiwa Prabu Dasarata dengan menggunakan jarinya untuk menahan roda agar tidak terpisah dari poros kereta. Setelah perang usai dan memperoleh kemenangan, Dasarata melihat bahwa tangan Kekayi mengeluarkan darah begitu banyak. Menyaksikan pemandangan yang menyedihkan dan mengharukan itu, Dasarata diliputi oleh rasa cinta yang meluap-luap dan begitu bangga akan keberanian serta pengorbanan Kekayi, sehingga kemudian Ia berkata: “Kekayi, engkau boleh minta dua hadiah sekarang, terserah apa saja yang engkau inginkan, dan aku akan berusaha dengan jalan apapun untuk memenuhinya”. Dasarata tidak menentukan hadiah apa yang boleh diminta Kekayi. Dan Kekayi dengan cerdik menolak mengungkapkan pada saat itu dan mengatakan bahwa pada saatnya kelak akan menagihnya. Seorang pria mencintai kekasihnya paling banyak, mencintai istrinya paling baik, tapi mencintai ibunya paling lama (A man loves his sweetheart the most, his wife the best, but his mother the longest, Irish Proverb kata bijak dari Irlandia). Dasarata begitu tersentuh oleh pengorbanan Kekayi sehingga dengan tanpa berpikir panjang langsung menyetujuinya. (Kelak, keteledoran Dasarata inilah yang menyebabkan petaka di Ayodya) Dan di dasar hati Kekayi, telah lama muncul keinginan atau ambisi untuk menurunkan raja-raja melalui anak turunnya. Keinginan terpendam itulah yang kemudian mempengaruhi perilakunya menjadi seorang yang angkuh dan cenderung ingin menang sendiri. Sementara istri ketiga dari Prabu Dasarata adalah Dewi Sumitra yang dikenal pula dengan sebutan Dewi Priti. Ia putri dari Prabu Ruryana, raja negara Maespati, yang berarti adalah cucu dari Prabu Arjunawijaya atau Prabu Arjunasasra dengan permaisuri Dewi Citrawati. Dewi Sumitra berwajah sangat cantik dan memilki sifat dan perwatakan sangat setia, murah hati, baik budi, sabar, jatmika (penuh sopan santun) dan sangat berbakti. Latar belakang ketiga istri Prabu Dasarata yang berbeda itulah yang menyebabkan kekurang harmonisan diantara mereka. Namun sebenarnyalah, perilaku Kekayi yang selalu mencurigai sikap para madunya, terutama Dewi Ragu, yang menyebabkan hubungan menjadi tidak baik. Dewi Ragu dan Dewi Sumitra sendiri, pada dasarnya tidak merasa ada persaingan diantara mereka, dan percikan-percikan api yang kemudian diketahui oleh masyarakat umum, tidak lain adalah karena perilaku Dewi Kekayi semata. Dan di pasewakan agung itu, Prabu Dasarata kembali merenung bahwa kemungkinan hal itu terjadi adalah lantaran mereka semua belum memiliki anak yang akan dapat mengalihkan perhatian untuk menumpahkan kasih sayang kepada keturunannya. Menyadari hal ini, kembali Prabu Dasarata merenung dan merasakan kelemahan diri sebagai seorang suami yang tidak mampu memberi kebahagiaan kepada istri-istrinya. Mengingat hal ini, kemudian dia berkata kepada Begawan Wasista, resi Negara Ayodya yang selalu setia mendampinginya memberi nasehat dan solusi bagi segala permasalahan yang di hadapi “Resi Wasista, apakah ini adalah bencana yang ditimpakan oleh dewata kepadaku dan negri Ayodya sehingga mengalami hal seperti ini ?” “Duh Sinuwun, dewata yang agung tidak akan memberikan hal-hal yang buruk kepada kita apalagi bila kita sebagai manusia yang hidup di dunia ini selalu pasrah dan menyerahkan segala yang terjadi kepada kekuasaan Yang Maha Agung” “Lalu apa pendapatmu terhadap permasalahan yang tengah menggelayuti Ayodya. Mendung seakan tengah menggantung di bumi Ayodya dan menimbulkan kegelapan yang mengusik ketentraman yang selama ini kami rasakan. Dapatkah engkau memberi pandangan terhadap permasalahan ini ? Pertama, ketidakharmonisan istri-istriku yang sebenarnya aku selaku pemimpin negara Ayodya merasa malu terhadap rakyat-rakyatku mengetahui bahwa mereka memperbincangkan hal ini. Dan aku selaku suami mereka seharusnyalah yang bertanggung jawab untuk mendamaikannya. Kedua, sudah beberapa tahun mereka aku nikahi tapi hingga sekarang belum ada tanda-tanda salah satu dari mereka mengandung anak-anak yang begitu aku harapkan. Resi Wasista, apa solusi yang engkau hendak sampaikan kepadaku ?

” Ramayana [3] “

Duh Sinuwun Prabu, para leluhur, para brahmana, para cerdik cendekia telah lama mengungkapkan ujaran bijak yang tertuang dalam kitab-kitab sastra, agar selalu berharap dan berserah terhadap yang kita terima. Pabila rusak dan kotornya tembok, dapat kita perbaiki dengan menambal dan mengecetnya kembali hingga menjadi kokoh dan indah dipandang, rusaknya penyangga rumah tempat tinggal, dapat kita perbaiki dan bangun kembali dengan menggunakan kayu jati berkualitas tinggi sehingga mampu kokoh berdiri berabad lamanya, namun pabila tergerus dan runtuhnya kewibawaan diri, hanya mampu dibangun dan dibangkitkan kembali melalui tarak brata. Sukur seandainya Sinuwun berkesempatan, maka laksanakanlah triratya. Selama tiga hari tiga malam, harus disingkirkan kobar nafsu dari panca indra. Hindarkan kesegaran toya (air), jangan sampai terkena panas karena dayanya agni (api), jangan sampai terhembus nyaman diri karena dayanya maruta (angin). Singkatnya Sinuwun tidak diperkenankan untuk tidur, makan dan minum serta keluar dari sanggar sembahyang. Dan pada saat-saat itulah, heningkan cipta dan bererahlah kepada Sang Penguasa Alam serta memohon kehendakNya untuk dapat memenuhi keinginan Sinuwun melalui petunjuk yang diberikan. Mudah-mudahan apa yang Sinuwun Prabu harapkan yaitu segera memperoleh anak keturunan dapat segera terlaksana” “Ee … Jagat wasesaning Batara ! Terbuka rasa hatiku. He … Patih Tameng Gita !” “Daulat Tuanku” “Mulai saat ini, aku perintahkan engkau menjaga kraton ini agar dalam keadaan diam. Pabila ada tamu yang berkehendak menemuiku, dipersilahkan untuk menundanya lain waktu. Pabila ada yang berkehendak memaksa memasuki istana ini, aku berikan kewenangan di pundakmu. Dan upayakan agar di dekat sanggar sembahyang ini terbebas dari gangguan baik suara ataupun hal lain yang dapat mengganggu tarak brataku. Apa bila hal itu masih terjadi sedangkan aku belum menyelesaikan selama tiga hari tiga malam, jiwamu menjadi taruhannya” “Sendika dawuh Sinuwun !” Maka berkemaslah Prabu Dasarata untuk melaksanakan apa yang tadi telah disarankan oleh Begawan Wasista. Dimasukinya sanggar sembahyang dengan kemantaban niat dan keyakinan hati untuk berusaha memperoleh petunjuk Yang Maha Kuasa. Di pasrahkan jiwa dan raga untuk berharap kemurahan Sang Pencipta. Selama tiga hari tiga malam, mata hatinya hanya tertuju kepada satu tekad saja. Di hilangkan rasa rindu kepada istri-istrinya, terhadap senyum manis Dewi Ragu, kenes manja Kekayi dan cantik manisnya Sumitra. Dibuang jauh-jauh hasrat ingin bercumbu rayu dengan mereka, mereguk kenikmatan bercinta, bermesra seraya berbagi rasa. Pun di buang sejenak pikiran untuk mengelola negara, menghidupi rakyat dalam kemakmuran, menegakkan hukum terhadap para pecundang, dan segala upaya untuk juga kejayaan negara. Dilupakan rasa perih ulu hati karena perut tiada diisi, dinyalangkan matanya meskipun dalam gelap, di paksakan kesadarannya meskipun lelah dan kantuk berupaya menghampiri. Semua tekad dikumpulkannya demi tujuan utama untuk kemuliaan diri, keluarga dan negaranya. Perjuangan tiada kenal lelah Prabu Dasarata akhirnya usai sudah. Genap tiga hari tiga malam menyepi diri dalam sanggar sembahyang, dirasakannya hatinya rasa tenang dan tentram. Dirasakannya Sang Penguasa Alam telah mendengar semua permohonannya, hingga apa yang kini dipandangnya nampak lebih indah. Sesaat kemudian ada hasrat yang mendorongnya untuk segera menemui istrinya yang pertama, Dewi Ragu. Dewi Ragu yang melihat kedatangan suami dan junjungannya segera menyambut dengan tergopoh-gopoh namun terbayang kebahagiaan di wajah ayunya : “Aduh … Sinuwun Prabu mengapa datang tiada menyampaikan warta terlebih dahulu. Yang hamba dengar, kakanda sedang melaksanakan tarak brata selama tiga hari tiga malam dan sepertinya kakanda telah menyelesaikannya. “Benar Nimas Ratu” “Pasuryan, wajah kakanda nampak lebih bersinar sehingga membuat nampak semakin gagah menawan saja Kakanda. Hati Dinda menjadi tak karuan rasanya” “Mungkin ini adalah petunjuk dari Sang Maha Agung yang tlah diberikan kepada Kanda hingga kakiku rasanya berjalan sendiri menuju kesini. Adakah engkau akan menerima diriku ini Dinda ?” “Mana pernah hamba menolak kehendak Kanda. Rasa cinta yang tertanam dalam hati ini tlah mengakar menghunjam dalam dan tlah memenuhi hati Dinda, sedikitpun tiada tersisa untuk yang lain. Tak melihat Kanda Prabu hanya beberapa hari saja, rasanya rindu ini tlah menggumpal tak tertahan. Betapa tersiksanya Kanda ! Namun, tadi, saat melihat Kanda Prabu datang, lepas sudah rindu menyiksa berganti dengan bahagia tiada terkira” “Begitupun diriku Dinda Ratu. Apakah engkau telah persiapkan bahtera penuh keindahan yang menuju puncak kenikmatan dan kebahagiaan kita ?” Dan dengan tersenyum malu dan manja kemudian Dewi Ragu menggandeng tangan kekasih hatinya itu ke dalam guna “andum katresnan” Hari demi hari berlari, waktu demi waktu memburu dan akhirnya berita gembira muncul dari mulut Sang Permaisuri Dewi Ragu bahwa dirinya telah hamil. Betapa gembiranya hati Prabu Danaraja mendengar berita itu. Segera dirinya bergegas menuju sanggar sembahyang untuk menyampaikan terima kasihnya kepada Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Ramayana [4]

Dan saat yang dinanti-nantikan tibalah ! Seorang bayi mungil berwajah rupawan terlahir ke dunia dari perut Dewi Ragu. Bergembiralah Prabu Dasarata, berserilah Resi Wasista, Patih Tameng Gita dan para nayaka di kerajaan Ayodya, dan bersuka rialah rakyat yang mendengar berita gembira yang tlah lama dinanti-nanti. Rasanya semua orang di negri Ayodya bergembira, kecuali satu orang yang bersedih dan iri hati. “Mudah-mudahan bayi mungil ini adalah titisan Wisnu, Resi Wasista. Sewaktu melakukan tarak brata lalu, aku memohon perkenan dewata untuk menitiskan Batara Wisnu ke jiwa anakku” “Sepertinya yang paduka harapkan dikabulkan, sinuwun. Lihatlah betapa cemerlang wajah bayi ini memancarkan perbawa agung. Bagi sesiapa yang memandangnya, tentram damai bakal dirasakan. Pada saatnya nanti, aku mohon perkenan paduka untuk menyerahkan anak ini untuk hamba tempa menjadi satria utama” “Dengan senang hati, resi Wasista” “Sudahkah paduka menyiapkan nama untuk bayi lelaki tampan ini, sinuwun ?” “Bagaimana, yayi ratu. Apakah engkau telah menyiapkan nama untuk anak kita ini ?” Prabu Dasarata mengalihkan pertanyaan kepada Dewi Ragu. Dan yang ditanya, dengan perasaan berbunga menjawab seraya tersenyum manis “Terserah kanda Prabu saja” “Baiklah. Karena dia terlahir dari Ragu ibunya, maka kuberi dia kuberi nama RAGAWA yang berarti Ragu Putra. Diapun ku beri nama juga RAMA” Maka dunia menyaksikan terlahirnya Regawa atau Rama dengan suka cita. Lalu siapakah yang justru tidak merasa senang dengan kelahiran Rama ini ? Prabu Dasarata adalah seorang yang perasa dan bijaksana. Tentu hal ini tidak luput dari perhatiannya. Maka setelah urusan terkait dengan kelahiran Regawa selesai, dia segera menghampiri istrinya Kekayi. “Gerangan apakah yang menyebabkan dirimu bermuram durja kekasih hatiku ?” “Kanda Prabu tidak cinta lagi kepada dinda !” “Hal apa yang menyebabkan engkau menyimpulkan demikian Dinda. Bolehlah engkau belah dada ini, maka tak akan engkau temukan kata dusta apalagi benci, yang ada hanyalah bunga-bunga cinta semata” “Kanda Prabu hanya perhatian kepada Kangmbok Ragu yang cantik manis dan lemah lembut itu” “Apakah Dinda tidak merasa bahwa kecantikan Dinda Kekayi sungguh membuat iri setiap wanodya. Kalaupun seumpama bidadari dari kahyangan semisal Batari Wilutama dipersandingkan dengan Dinda, niscaya akan terlihat lebih bercahya karna kemolekannya Dinda dibanding Wilutama.” “Tapi hamba sangat berbeda dengan Kangmbok Ragu yang lemah lembut tutur bahasanya, gemulai polah tingkahnya. Sementara Kekayi, sudah cerewet, kalau berkata-kata apa adanya. Tentu Kanda Prabu tidak menyukai hal seperti itu bukan ?” “Kanda menikahi Dinda Kekayi bukan menikahi wataknya melainkan menikahi orangnya. Apapun kata orang tentang Dinda, cinta Kanda tak akan pernah luntur malah semakin hari semakin bertambah” “Apakah buktinya ?” “Kehadiran Kanda disini hendak menemui kekasih hati” “Tidak cukup itu saja !” “Apa yang Dinda inginkan” “Kanda harus berjanji bahwa kelak anak yang aku lahirkan akan Kanda angkat menjadi raja pengganti Kanda” “Menurut pranatan, ketentuan yang berlaku di dunia manapun, bukankah pengganti raja adalah putra sulung dari garwa yang paling tua, Dinda” “Berarti Kanda tidak cinta kepadaku. Kalau begitu lebih baik hamba dikembalikan saja kepada ayah hamba” “Sampai jaman sekarang, tidak ada sejarahnya seorang raja bercerai dengan istrinya, Dinda. Kanda tidak akan melakukan aib seperti itu, apalagi karena Kanda memang benar-benar mencintai Dinda” “Kalau begitu kanda harus memilih” “Baiklah kalau itu memang keinginanmu, Kanda berjanji ….” “Jangan berjanji, bersumpah …!” “Baiklah. Ingsun bersumpah, moga disaksikan oleh jagat seisinya bahwa kelak anak yang terlahir dari istriku Kekayi-lah yang akan menggantikanku menjadi raja Ayodya !” Dan alam semesta mendengar sumpah Prabu Dasarata. Alam semesta merekamnya dan kelak membeberkannya sebagai sebuah sumpah yang harus dipenuhi oleh Danaraja. Sabda pandita ratu ! Dan setelah mendengar yang diinginkannya, maka senyum Kekayi merekah dan segera dia menggandeng tangan suaminya itu untuk membimbingnya masuk keperaduan “Dinda telah menyiapkan segala sesuatunya dengan sempurna Kanda. Kamar ini telah Dinda hias dengan seindah mungkin. Harum bebauan yang membangkitkan hasrat tlah hamba sebarkan di segala penjuru ruangan. Tubuh Dinda, telah Dinda bersihkan dengan teliti hingga tercium wangi kesturi di setiap jengkalnya. Bukankah Kanda suka terhadap bebauan itu Kanda ?” Maka berangkatlah sepasang suami istri tersebut mengarungi kenikmatan surga dunia. Tiga hari tiga malam tiada keluar kamar, bercanda bercumbu mesra. Hingga beberapa minggu kemudian, Prabu Dasarata mendengar kabar yang menggembirakan dari mulut Kekayi langsung bahwa dirinya telah mengandung.

Ramayana [5]

Dan itulah yang membedakan antara Kekayi dan Sukasalya. Dewi Ragu begitu sabar dan bijak kala mengandung Regawa. Dilakoninya dengan penuh kesabaran derita orang yang sedang mengandung. Walau kadang sakit dirasakan namun dihadapinya dengan kesabaran dan keikhlasan. Lain halnya dengan Kekayi, manjanya bukan main. Bila Dasarata mengunjunginya untuk menengok calon anaknya yang ada dalam perut Kekayi, maka muncullah sifat manja yang dibuat-buat. Terpaksa demi calon anaknya, Dasarata memijit-mijit kaki atau tangan Kekayi atas permintaan calon bayi katanya he he he … Hingga saat kelahiran telah menjelang, genap sembilan bulan sepuluh hari maka dengan perjuangan berat seorang ibu, akhirnya bayi dalam perut Kekayi terlahir. Betapa suka citanya Kekayi. Pun juga Prabu Dasarata yang dengan setia menunggu saat-saat itu. Kembali negri Ayodya memiliki seorang pangeran yang baru lahir, anak dari Kekayi yang sesuai dengan harapannya terlahir laki-laki. Dan setelah proses persalinan selesai, maka Resi Wasista berkata kepada Dasarata “Sinuwun, selamat saya ucapkan telah memperoleh anak laki-laki lagi. Apakah sinuwun telah mempersiapkan nama untuk bayi yang tampan ini ?” Belum sempat Prabu Dasarata menjawab, Kekayi menimpali dengan ketus “Resi Wasista !” “Ya Kanjeng Ratu” “Kamu ini jangan lancang ya ! Yang penuh penderitaan saat mengandung bayi ini adalah aku. Pun yang melahirkan adalah Kekayi. Seharusnya akulah yang berhak memberi nama kepadanya” “Kanjeng Ratu, saya hanya melakukan sesuai dengan ilmu-ilmu sastra yang saya pelajari dan yakini bahwa suami sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab atas jalannya roda kehidupan keluargalah yang berkewajiban memberi nama yang baik untuk anak-anaknya” “Iya, tapi ini Kekayi, permaisuri kerajaan Ayodya…” “Sudahlah Kekayi jangan engkau lanjutkan berdebat masalah remeh ini. Kalau memang itu yang engkau inginkan, apa yang engkau sarankan untuk nama bayi kita ini” Prabu Dasarata mencoba menengahi agar tidak berlarut-larut perdebatan itu “Dinda belum memikirkan tentang hal itu Kanda Prabu. Kalau begitu, Kanda Prabu saja yang memberi nama anak kita ini” “Nimas Ratu ini lucu. Tadi Resi Wasista sudah melakukan yang sebenarnya yaitu meminta Kanda untuk memberi nama bayi kita. Engkau malah menghujatnya, dan setelah diberi kesempatan malah dikembalikan kepadaku … ha ha ha” “Bagaimana Kanda Prabu sajalah” “Baiklah kalau begitu. Dinda Kekayi, Resi Wasista dan seluruh yang hadir disini, saksikanlah bahwa anak saya yang terlahir dari nimas Ratu Kekayi, aku beri nama BARATA !” Resi Wasista mengahturkan pujian kepada Tuhan semesta alam “Mudah-mudahan, anak Sinuwun kelak menjadi satria utama yang mampu memberi sumbang sih bagi kejayaan negri kita tercinta ini Sinuwun. Dan ijinkanlah kelak kalau sudah waktunya, saya akan memberikan gemblengan lahir dan batin untuk mewujudkan hal tersebut” “Dengan senang hati Resi Wasista, akan aku perkenankan semua anak-anakku untuk memperoleh gemblengan dari orang yang profesional di bidangnya” Kebahagiaan Prabu Dasarata begitu sempurna setelah mendapatkan dua orang putra dari dua orang istri-istrinya. Namun rasanya belum lengkap, masih ada yang kurang dirasakannya. Dalam pikirannya kemudian muncul sosok istrinya yang ketiga yaitu Dewi Sumitra. Istrinya yang satu itu, dikaguminya sebagai sosok yang luar biasa dalam watak dan karakternya. Sudah memiliki dambaan setiap wanita yaitu cantik rupawan bak bidadari kahyangan, Dewi Sumitra juga dikaruniai sifat pembawaan yang kalem, sangat lemah lembut sopan santun dan nrima ing pandum. Mengingat hal itu, segera Prabu Dasarata mengunjungi istri ketiganya itu. Dan seuntai senyum lembut nan menawan menyapa menyambut kedatangannya. Tak terlihat gurat kecemburuan ataupun rasa tidak senang di wajahnya nan ayu. Yang tertangkap oleh Prabu Dasarata adalah senyum yang tulus murni yang keluar dari jiwa yang bersih dan pribadi yang tulus ikhlas. Betapa nyamannya suasana hati Dasarata disambut dengan senyum itu. Tak perlu diceritakan lagi, bagaimana akhirnya sepasang suami istri itu kemudian “andum katresnan” hingga kemudian Dewi Sumitra hamil dan pada saatnya melahirkan seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama oleh ayahnya LESMANA WIDAGDA. Bayi yang sungguh sangat tampan dan menawan hingga sangat membahagiaan kedua orang tuanya. Cinta Prabu Dasarata kepada Dewi Sumitra kemudian membuahkan putra seorang lagi yaitu SATRUGNA. Genap sudah Ayodya mempunyai empat orang putra kerajaan dari ketiga istri raja mereka. Dari kecil mereka sudah diasuh oleh Resi Wasista dengan memberi pelajaran olah kanuragan dan olah jiwa berupa ilmu-ilmu sastra, ketuhanan, kenegaraan dan ilmu-ilmu lain yang diharapkan mampu menjadi dasar yang kuat sebagai satria utama kelak. Dan memang mereka bukanlah anak-anak biasa, mereka dikaruniai kemampuan lebih dibanding anak-anak sepantaran. Kemampuan dalam menyerap semua pelajaran yang diberikan dan mempraktekannya, sungguh sangat cepat dan sangat baik. Diantara keempat anak-anak Danaraja, Regawalah yang paling berbakat dan berkemampuan hebat. Selaku yang paling tua diantara mereka, Regawalah yang paling menonjol kemampuannya. Hal tersebut diakui oleh Resi Wasista selaku gurunya yang setiap hari melihat perkembangan anak-anak didiknya. Kepandaian Regawa dan rasa tanggung jawabnya, diimbangi oleh kebijaksanaan yang tidak lumrah untuk ukuran remaja seusianya. Sifat-sifat kepemimpinannya telah nampak dan dirasakan pula oleh adik-adiknya sehingga mereka sangat hormat dan menyayangi kakaknya dengan sepenuh hati. Dan yang paling mengagumi sosok Regawa adalah Lesmana.

Ramayana [6]

Seiring dengan perjalanan waktu, keempat pangeran Ayodya tumbuh dewasa. Keakraban mereka sebagai saudara satu ayah tidak diragukan lagi. Hal ini disebabkan kebersamaan yang selalu mereka kedepankan dalam pergaulan sehari-harinya. Juga didikan dari Resi Wasista sangat membekas di hati mereka untuk saling menyayangi sesama saudara, mengasihi sesama manusia dan makhluk hidup lainnya, memiliki jiwa satria utama dengan berlandaskan pada ujaran dan ajaran kebijaksanaan-kebijaksanaan yang tertuang dalam kitab-kitab sastra warisan kaum cerdik cendekia terdahulu, semangat untuk selalu mengabdi kepada Tuhan semesta alam, berbakti kepada negara juga kepada orang tua, dan ajaran-ajaran bijak lainnya. Dalam olah kanuragan dan kedigdayaan, jangan harap ada yang mampu menandinginya di bumi Ayodya. Kesaktian mereka tak terbantahkan. Yang paling menonjol dalam olah kasusastran dan juga olah kanuragan adalah si sulung Raden Rama. Seorang satria yang nyaris sempurna. Dikaruniai badan tegap perkasa, wajah tampan rupawan, aura perbawa yang mampu menundukkan sesiapa saja yang berdekatan atau berdialog dengannya. Meskipun perawakannya sedang-sedang saja, namun kekuatannya sungguh luar biasa. Juga kemampuan dalam hal memanah tiada duanya, mampu menguasai dan mengendalikan busur dan anak panah layaknya memiliki mata dan telinga saja, dapat diukur ketepatan dan kekuatan disesuaikan dengan sasaran yang hendak ditujunya. Untuk tingkat kedigdayaan dan keahlian dalam hal memanah, sedkit dibawah keahlian Rama adalah adiknya Lesmana. Lesmana begitu mengagumi kakaknya Rama, kemanapun Rama pergi maka Lesmana selalu mengikuti. Dimana ada Rama, bisa dipastikan Lesmana berada disampingnya. Sebenarnya ada yang lebih dari Lesmana dibanding Rama, yaitu paras tampannya. Lesmana berwajah sangat tampan namun memang cenderung kurang gagah kelelakian (kalau didandani ala perempuan, mungkin akan banyak yang terkecoh karena akan muncul perempuan yang cantik luar biasa pada sosoknya). Namun Lesmana bukan keperempuan-perempuan, melainkan karena sikap dan wataknya yang sangat lemah lembut, mungkin turunan dari ibunya Dewi Sumitra yang memang sangat terkenal sebagai seorang yang berbudi dan berperilaku lemah lembut dan memiliki kesabaran tiada batas. Sedangkan Raden Barata, sebenarnyalah tidak terlalu menonjol sifat dan bakatnya. Namun karena dididik dengan keras sedari kecil serta berada di lingkungan saudara-saudaranya yang gagah perkasa, maka dia terbawa arus yang positif sehingga mampu menjadi sosok yang perkasa juga. Begitupun Satrugna, wajahnya tidak setampan kakaknya Lesmana bahkan kulitnya terlihat lebih hitam, namun gemblengan yang diterimanya sedari kecil, menjadikannya sebagai sosok seorang satria yang gagah perkasa, tidak mengecewakan sebagai putra dari Raja Ayodya. Pada suatu hari, di pendapa istana saat Prabu Dasarata didampingi keempat putranya serta Resi Wasista tengah bercenkerama, datanglah dengan tergopoh-gopoh dua orang yang berkeinginan untuk menghadap. Kemudian Prabu Dasarata bertanya untuk mengetahui maksud dan tujuannya menghadap “Kisanak yang baru saja datang dan memakai pakaian kabrahmanan, kalau memang benar-benar seorang brahmana, segeralah memperkenalkan diri kalian” “Inggih Sinuwun, amit pasang kaliman tabik, yang sudi meyapa, saya ini bernama begawan Yogiswara dan yang disebelah saya ini adalah adik saya begawan Sumitra. Kami bertempat tinggal di hutan Dhadaka.” “Apa yang menjadi tujuan kalian sehingga menghadap kesini” “Inggih Sinuwun, kedatangan kami kesini untuk minta perlindungan kepada paduka. Dapat kami laporkan bahwa tempat tinggal kami di tengah hutan Dhadaka dan juga dusun-dusun tetangga kami yang sebelumnya aman tenteram, belum lama ini kedatangan tamu yang tak diundang dan kemudian malah merusak ketentraman kami. Mereka adalah raksasa-raksasa ganas utusan dari Rahwanaraja dari negri Ngalengka. Duh .. Sinuwun hanya paduka yang dapat melindungi kami dari aniaya para raksasa yang bertindak semena-mena itu. Hanya Sinuwun lah yang mampu menyambung hidup kami semua dan menentramkan kehidupan di dusun-dusun seperti sedia kala. Kami berani mengatakan demikian karena telah mendengar kabar tentang raja putra-putra paduka yang telah kasup kasudiranipun, kaloka kaprawiranipun, kondang ing babakan olah dedamel lepasing warastra tuwin tangkising curiga. Oleh karenanya mohon kiranya paduka memerintahkan salah satu dari putra paduka untuk memusnahkan musuh yang merusak jagat ini” “Jagat wasesane bathara, anakku Regawa dan kamu Lesmana, segeralah engkau membantu brahmana-brahmana ini yang sedang mengalami musibah akibat perbuatan raksasa-raksasa dari Ngalengka. Kalau seandainya diperlukan, kalian berdua bawalah pasukan secukupnya untuk melenyapkan musuh-musuh tadi” “Saya kok tidak diperintahkan ikut Rama” Raden Barata protes karena tidak diajak “Barata … kamu rumeksaa praja” Prabu Dasarata menjawab dengan bijak “Yayi Lesmana diperintahkan kok saya tidak” masih ngeyel Barata bertanya “Jangan sampai negara komplang” jawab Dasarata tegas “Kanjeng Rama, pun putra Satrugna kok tidak diberi perintah” Satrugna tidak mau kalah “Kamu jangan jauh-jauh bersama Rama, ada sesuatu yang akan Rama sampaikan” Maka tanpa menunda waktu, Rama dan Lesmana diringi oleh Begawan Yogiswara dan Begawan Sumitra sebagai penunjuk jalan, segera menuju “pengalaman pertama” menghadapi musuh dalam pertempuran sesungguhnya Rama dan Lesmana <<< ooo >>> Tunggal kandane seje critane kaya bareng angkate, ana gempalane carita crak ginawa adoh, adoh ginawa crak. Kang ana wadyane wana Dhadaka, dening wadya raseksa negara Ngalengkadiraja sinung pasanggrahan, haglar sepapan ngrakit gelaring yudha. Rinten tuwin dalu tan kendat anggenipun hangumanjer roncen umbul umbul. Katiuping samirana kumlebet angawe awe kaya nantang marang musuhe. Sementara itu seperti yang telah di beritakan oleh Begawan Yogiswara dan Sumitra, di tengah hutan Dhadaka, para raksasa Ngalengka tengah merayakan keberhasilan mereka menduduki wilayah sekitar hutan Dhadaka dan mengusir semua penduduk yang menempati sebelumnya. Mereka kemudian mendirikan pesanggrahan dan mempersiapkan pasukan dalam siaga peperangan. Mereka sadar bahwa cepat atau lambat pasti raja Ayodya akan mengetahui keberadaan mereka dan mengirimkan wadya bala untuk mengusir mereka. Pasukan itu dipimpin oleh Ditya Kala Mintragna, juga didampingi oleh abdi kinasih Dasamuka yaitu Kala Marica

Ramayana [7]

Dalam beberapa hari perjalanan, maka tibalah pasukan kecil Ayodya yang dipimpin oleh patih Tameng Gita ke hutan Dhandaka. Perasaan mereka campur aduk antara rasa jerih dan percaya diri atas peperangan yang bakal mereka hadapi. Jerih karena telah mendengar akan kondang kesaktian para prajurit Ngalengka diraja yang berwujud raksasa dan juga keganasannya, namun di pihak lain muncul semangat menggebu karena kali ini didampingi oleh raja putra Ayodya Raden Regawa dan Lesmana yang juga sudah terkenal kedigdayaannya. Dan akhirnya bertemulah dua pasukan itu di tengah alas Dhadaka. Maka pecahlah pertempuran sengit antara pasukan Ngalengka dan Ngayodya itu. Dan terbukti memang betapa perkasanya para raksasa itu dalam olah krida peperangan. Mereka adalah prajurit-prajurit pilihan yang menjadi utusan raja Ngalengka Rahwanaraja dalam tugas khusus yaitu melebarkan wilayah kekuasaan, menawan dan kalau perlu membunuh para brahmana untuk menimbulkan ketakutan rakyat di daerah itu. Rata-rata mereka mempunyai tubuh yang tinggi besar dan kekuatan yang tak lumrah seperti manusia biasa dan juga pastinya memiliki kekejaman yang nggegirisi. Bagi mereka, menghilangkan nyawa manusia ibarat sebuah permainan belaka, tidak ada peri kemanusiaan di hatinya, yang ada hanyalah peri keraksasaan. Dan terbukti … para prajurit Ngayodya keteteran menghadapi serbuan buas para raksasa Ngalengka. Sudah banyak yang menjadi korban keganasan raksasa-raksasa itu. Dari yang luka ringan akibat berbenturan dengan tangan-tangan kokoh dan kasar mereka, luka tidak terlalu parah tergigit taring mereka … sampai terluka cukup berat akibat patah tulang kaki dan tangan karena beradu kekuatan dengan tenaga raksasa-raksasa itu. Begitupun yang dialami Patih Tameng Gita, awalnya dia sanggup meladeni Ditya Kala Mintragna dengan bergerak cepat menggebuk tubuh lawannya itu. Tapi gebukan Sang Patih baik dengan telanjang tangan, ataupun menggunakan gada seolah tak dirasakan Kala Mintragna, layaknya dipijit-pijit saja. Hingga akhirnya patih Ayodya itu mulai terdesak hebat. Melihat keadaan sudah semakin kritis, maka segera Raden Regawa turun tangan. Diambilnya busur andalannya, kemudian dikeluarkan anak panah pusaka yang diujungnya mengeluarkan api yang menyala. Dan dalam hitungan detik … anak panah tadi melesat dengan cepat menuju arah pasukan Ngalengka. Dan … Byaaarrrr … jleegeerrr … dentum suara menggelegar diiringi oleh kobaran api dahsyat dan deru angin yang menghempaskan prajurit-prajurit raksasa itu. Hebat nian akibat dari tuah anak panah pusaka Raden Regawa. Tubuh-tubuh besar para raksasa itu sebagian besar terlontar jauh laksana kapas tertiup angin sahaja. Raksasa-raksasa itu banyak yang binasa dan hanya menyisakan satu yang terhempas jauh hingga sampai tepinya samudra namun nyawa masih enggan lepas dari jasadnya. Siapakah dia ? Dialah Kala Marica ! Maka … tempik sorak kemudian menggema mengiringi kemenangan yang diraih oleh pasukan Ngayodya, tepatnya kemenangan Raden Regawa. Muncul kekaguman dan kebanggaan di setiap dada yang menyaksikan peristiwa ini tak terkecuali Begawan Yogiswara dan Sumitra. “Aduh Raden … pranyata inggih namung Raden ingkang kenging sinebat satunggaling priya tohjalining jagat. Nadyan mengsah raseksa pinten-pinten yuta cacahipun mboten ngantos anglangkungi wanci bedug tenganging, sedaya para raseksa sampun sami bubar mawut kathah ingkang dumugining pejah. Inggih lekas paduka ingkang mekaten trep lamun sinudarsana. Kula sekadang para brahmana ingkang sampun rumaos kahayoman dening paduka raden kekalih, suk-sukaning manah ginakaken etang-etang bandha menapa ingkang cocok tuwin ingkang trep minangka pisungsung dumateng handika raden anggenipun sampun kepareng anglilakaken lelabetan wujudipun amunah satru angkara murka memalaning jagat raya.” “Sang Resi Yogiswara, apa dene Sang Resi Mitra, para satria anggone gelem tumandang gawe sayekti ora tumoleh kanan kiring. Rina wengi kang kapundi amung lelabuhan utama. Dene wong kang ngundamana marang lelabuhane kang wis diwenehake sapa wae kang trep diwenehi lelabuhan iku, lamun ndadak nganggo imbalan kang wujude prabeya, bebasane kaya dene wong nyebar uyah ana telenging samudra, tanpa ana gunane apa-apa. Dene kang minangka pitukon tumraping aku dalasan kadangku si Lesmana, amung wujude katentreman ya sabab ilanging dur memalaning jagat ingkang tansah ngrubeda sugenging para brahmana wus bisa sirna saka pandulu. Mangkono mau yektine wis padha karo sira bisa misungsung, ajine ngungkuli raja brana, Panembahan” Begitu terharu Resi Yogiswara dan Resi Mitra mendengar apa yang dikatakan oleh Raden Regawa itu. Dihadapannya, berdiri seorang satria yang meskipun masih muda belia namun telah memiliki kebijaksanaan yang sangat luas. “Menawi ngaten sampun trep kudanganing para brahmana, sampun trep kaliyan wewangson warsitane para linangkkung ingkang sinebat tri darma. Tri menika wilangan tiga, darma menika sanggem. Yen wis rumangsa melu duweni, kudu wajib melu anggondeli. Yen wis wajib anggondeli, kudu wani mulat sarira hangrasa wani. Tiga perkawis wau sampun kawengku ing andika raden kekalih. Mbok menawi lumahing bumi kureping amgkasa, wiwit kula linahiraken ngantos dumugi mangke pikun, ketemben menika kula saget srawung dateng salah satunggaling satria ingkang kumrembyah tanpa miliking obah, timandang gawe ingkang sepi ing pamrih.” Kemudian Resi Yogiswara melanjutkan “Disamping itu juga Raden, karena raden telah dewasa dan juga sebagai putra seorang raja gung binatara, sudah selayaknya untuk melanjutkan langkah yang utama yaitu dapat memberikan kebahagiaan bagi rama dan ibu, tidak hanya kemulyaan kasat mata saja namun juga hingga lahir batin. Kemulyaan lahir batin ini dapat terwujud bila raden berdua mampu memberikan darma bakti bagi kejayaan negri Ngayodya. Salah satu yang raden dapat lakukan adalah bersegeralah menikah untuk melanjutkan keturunan. Dapat saya informasikan Raden, bahwa saat ini ada sayembara di kerajaan Mantilidirja. Disana sedang ada sayembara mentang langkap Kyai Gandiwa untuk memperebutkan raja putra putri satu satunya raja Janaka yang bernama Dewi Sinta yang sungguh terkenal kecantikannya yang tiada tara dan luhur budinya. Dewi Sinta menurut kabar yang saya terima adalah titisan dari Dewi Sri.” “Kalau begitu, saya akan bersegera menuju ke Mantilidirja untuk mengikuti sayembara itu Panembahan” “Doa kami selalu teriring Raden, semoga selalu meraih kesuksesan di setiap langkah” “Terima kasih, Panembahan. Adiku Lesmana, kalau sekiranya engkau merasa keberatan, apakah tidak lebih baik bila engkau pulang ke Ngayodya saja” “Tidak hanya di madyapada, di dunia ini saja, saya ingin ikut dengan engkau Kakang, kemana saja Kakang pergi aku tidak ingin berpisah dengan kakang walau hanya sekejap” “Kalau memang begitu Yayi, marilah kita segera menuju negara Mantili” <<< ooo >>>

Ramayana [8]

Prabu Janaka Ratu ing Mantili nedya nganakake sayembara. Dewi Sinta, putrane putri kang isih kenya, nedya dipalakramakake; nanging ora sarana tinuku maskawin rajabrana utawa kadhaton. Saupama Dewi Siita kena tinuku rajabrana, sanajan diregani nganti Trailokyarajya (krajan ing jagat tetelu), ora larang kanggo nuku Sang Dewi. Kang dadi pelenging panggalihe Dewi Sita, kepengin winengku priya kinawasa kang sura-sakti mandraguna, luhur ing budi lan lepas pasanging grahita, tur tedlhaking awirya. Miyose Dewi Sinta saka guwagarba, truntunan utama ari-arine awujud gendhewa pinunjul sing saiki dadi gendhewa pusaka Mantili. Praptane Regawa lan Lesmana ing alun-alun Mantili, papane sayembara, wis kebak wong, umyang gumuruh suwarane. Sumurup rajaputra Regawa Lesmana, wong-wong padha cingak kagawokan, akeh kang padha rerasanan karo kancane mangkene : “Sing mentas prapta iku ayake Sang Hyang Aswino (Dewa kembar Bathata Aswan lan Aswin), katandha saka bagus respatining rupane” Kancane mangsuli : “Dudu ! Bisa uga Bathara Kamajaya karo Bathara Basanta. Kajaba rupane bagus, tindak-tanduke sarwa alus” Ana maneh wong sing nyuwara : “Mbok menawa Sang Hyang Wisnu nedya mriksani tumindake sayembara” Prabu Janaka banget karenan priksa rajaputra Regawa lan Lesmana. Sang Prabu kapareng nyoba kekuwatane Sang Rajaputra, mulane maringake gendhewa pusaka Mantili, ndikakake menthang. Gendewa iku duk ing nguni kagungane Bathara Parameswara (Siwah), wis tau kinarya mangruah Tripura. Kabeh ratu kang ngleboni sayembara wis nyoba menthang gendhewa iku, nanging ora ana kang kuwawa. Mung Regawa kang wasanane kuwawa menthanng nganti agawe tikele gandhawa kang kinarya sayembara. Tikeling gendhewa dening rajaputra Regawa, agawe suka renaning panggalihe Prabu Janaka. Sang Prabu ngendika marang gegedhuging wadyabala (senapati) Mantili : “Mung Sang Regawa kang mungguh dikawulani dening Sinta. Dheweke tanpa ceda, tedhaking kusuma, nedheng taruna tur sekti mandraguna. Sira enggal maturana rawuh Prabu Dasarata, matur yen Sang Regawa nedya ingsun dhaupake karo Sita” Kang tampa dhawuh matur sendika, banjur mangkat menyang Ayodya. Nalika midhanget atur utusan yen diaturi rawuh ing Mantili mangestoni dhauping putra, Prabu Dasarata nganti tripandurat datan ngendika, kagawa saka kejoting panggalihe. Sawise tata-tata, Sang Prabu banjur tindak menyang Mantili kanti dhanganing panggalih, didherekake wadyabala sabregada. Praptane Prabu Dasarata ing kedhaton Mantili, di pethuk dening Prabu Janaka. “Dhuh Prabu Dasarata, narendra ingkang sura sakti maha prabawa, saha ingkang tansah netepi dharma-arta-kama (samukawis ingkang alandhesan kaadilan, ingkang migunani lan ingkang dipun pengini). Paduka punika mitranipun Bathara Indra, prasasat dewa mangejawantah. Kawula rumaos saklangkung begja kemayangan kerawuhan paduka. Kawuninganana, putra paduka ingkang saklangkung utami luhur ing budi, susila saha sakti, Sang Regawa, tanpa timbang ing jagat. Anak kawula estri pun Sita badhe nyethi aleladi dhateng putra paduka Sang Regawa. Makaten wigatosipun paduka kawula aturi rawuh ing kedhaton Mantili” Sawise para tamu lenggah ing pendhapa kadhaton lan sinugato bojana andrawina, Panganten sarimbit, Rama lan Sinta, miyos saka dhatulaya akekanthen asta. Panganten kakung abusana rajakaputran, panganten putri abusana rajakaputren. Tindake panganten sarimbit ngener dununge Prabu Janaka kang lenggah jajar karo Prabu Dasarata. Sawise padha nyungkemi Prabu Janaka lan Prabu Dasarata genti genti, panganten sarimbit banjur lenggah jajar ana ing dhampar pinatik manik nawa retna. Sasuwene lenggah jajar ana ing ngarsane para tamu, kawistara ing semu Sang panganten sarimbit sajak rada lingsem, nanging kaworan seneng. Ora kocap ramening pamiwahane panganten Rama – Sita. Ing saparipurnaning wiwahan, panganten sarimbit munggah ing suyasa kang rinengga asri anglam-lami, manjing ing senthong panganten. Ora prelu dicaritakake ing sabanjure, manawa sang panganten sarimbit mbeneri ana ing sajrone senthong panganten, kapriye solah tingkahe ing sadurunge sare.

Ramayana [9]

Pesta pernikahan Raden Rama Regawa dan Dewi Sinta berlangsung sangat meriah. Rakyat negri Mantili begitu bergembira karena putri kerajaan mereka telah memperoleh jodoh yang sepadan. Sepadan dalam hal derajat pangkat karena keduanya adalah putra seorang raja, sepadan dalam hal kecantikan dan ketampanan yang dimilikinya dan sepadan akan indahnya budi pekerti dan watak yang disandang baik Rama Regawa maupun Sinta. Rasanya waktu berlalu begitu cepat. Tidak terasa tamu kerajaan Ayodya telah hampir dua minggu berada di kerajaan besan. Dan tibalah saatnya untuk pulang kembali ke Ayodya dengan tentu saja memboyong pengantin perempuannya untuk dibawa ke Ayodya. Rombongan kerajaan Ayodya kemudian diantarkan sampai ke daerah perbatasan oleh wadya bala Mantili yang dipimpin langsung oleh Prabu Janaka. Perpisahan kemudian dilakukan dengan semarak antara pasukan dari Ayodya dan Mantili melalui bebunyian yang meriah sehingga membawa suasana menjadi ramai dan ceria. Setelah saling memohon doa agar semuanya memperoleh keselamatan dan berkah dari Tuhan Semesta Alam, maka akhirnya berangkatlah rombongan Ayodya untuk pulang kembali ke Ayodya. Perjalanan yang menyenangkan karena hampir di setiap waktu terdengar dikidungkan tembang-tembang pujian ataupun tembang-tembang ceria yang menyenangkan hati. Hingga tibalah mereka di hutan Dhadaka dan waktu senja telah menjelang. Maka dengan gerak kilat dan terlatih, para wadya bala Ayodya segera mendirikan pesanggrahan untuk tempat bermalam rombongan. Suasana malam di pinggir hutan Dhadaka sungguh indah tiada tara. Sang rembulan mulai memunculkan dirinya seolah tersembul dari balik lebatnya pepohonan. Langit cerah dan bintang gemintang berkelip memenuhi cakrawala menambah indah suasana. Hingga pagi menjelang saat fajar mulai menyingsing, maka perjalananpun kemudian dilanjutkan. Belum lama mereka berjalan, tiba-tiba dikagetkan oleh sosok seseorang yang sedang berdiri di tengah jalan. Melihat hal itu, tentu saja semua orang menghentikan langkahnya. Semua mata tertuju pada sosok tinggi besar, mata mentheleng bersinar tajam nggegirisi perbawanya dan di pundak kiri terlihat pusaka sebuah wadung, kapak besar yang terlihat begitu tajam mengerikan. Di pundak kanan tersampir pula busur panah yang maha besar. Melihat sosok itu, meskipun belum pernah berjumpa sebelumnya namun Sang Dasarata berdasarkan kabar yang begitu terkenal dan didengarnya, dapat memastikan bahwa sosok yang memiliki ciri-ciri seperti itu hanya satu-satunya di dunia ini yaitu Ramabargawa atau Ramaparasu. Terkejutlah Sang Dasarata serasa copot jantungnya dan seolah otot-otot di tubuhnya dilolosi satu persatu. Siapakah Ramabargawa yang membuat Prabu Dasarata begitu terkejut dan seketika timbul jerih ? <<< ooo >>> Tersebutlah sebuah negara yang bernama Kanyakawaya. Rajanya bernama Prabu Gadi, seorang raja agung yang mempunyai cita-cita luhur dan agung. Sebenarnyalah, Sang Prabu sangat diasihi oleh para dewata karena sifat dan wataknya yang baik serta tekun bersamadi untuk menjalin hubungan dengan Gusti. Dalam setiap samadinya, yang dipintanya hanyalah kebaikan dan keselamatan negara serta rakyatnya. Dan satu hal lagi yang selalu dipintanya yaitu dikaruniai keturunan ! Ya … setelah sekian lama berharap, namun ternyata anak yang dinanti-nanti belum juga terlahir dari istrinya. “Dhuh Jawata Agung! Ing sangandhaping pepayung pukulun, nagari lan para kawula tansah gesang ing karaharjan. Sabab saking punika dhuh sang maha pangayom, kersaa paring langgenga pangayoman saking pukulun. Nanging menawi pukulun mboten kersa paring nugraha dhumateng titah paduka kados ingkang kula pinta, mugi pukulun paringa kanugrahan awujud putra ingkang luhuring budi, santosa, dirga yuswa lan kalis ing sirna kajawi saking karsaning Sang Hyang Wisnu kang nglantaraken ing tepet suci”. Menurut apa yang dirasakan Sang Prabu, permintaan dalam samadi itu bakal terkabul melihat beberapa pertanda yang muncul. Namun ternyata, sekian lama prameswari tidak mengandung juga. Datangnya anak yang didambakan laksana melempar bintang dilangit dengan sebongkah batu dan berharap bintang kan jatuh ke bumi. Rasa kecewa dan sedih mendekam erat di hati Sang Nata. Kenikmatan dan kebahagiaan yang dirasakan dikala dahulu, seakan lenyap tiada berbekas dan yang tertinggal hanyalah hampa dan sepi. Rasa kecewa membawanya menjadi senang mengembara kemana-mana. Gunung-gunung nan tinggi dan wingit dikunjunginya, hutan belantara gung liwang liwung yang tiada pernah di kunjungi manusia, didatanginya, bahkan tepi pantai yang jauh dari keramaian manusia, dituju untuk memuaskan perasaan hatinya. Prameswari yang selalu setia mendampinginya, seakan tiada lelah mengiringi setiap langkah menuju tempat-tempat terasing itu. Namun hal baik yang masih selalu dilakukannya adalah mengunjungi para brahmana, para resi di tempat tapanya. Sang Prabu selalu bersapa dan mengajak mereka berdiskusi tentang hidup dan kehidupan. Yang selalu sama dilihatnya adalah bahwa para resi atau begawan itu, selalu tekun dalam samadinya walau apapun yang terjadi. Hingga dalam benak Sang Gadi, kemudian muncul sebuah tanya “Apakah yang dipinta dalam samadinya para brahmana itu kala siang dan malam yang tiada pernah berhenti ? Sesungguhnya para suci itu tiada membutuhkan brana picis, harta benda, pangkat derajat, kemulyaan hidup ataupun keturunan. Namun mengapa mereka tetap tekun dalam samadinya ?” 

Ramayana [10]

Pertanyaan itu cukup lama membuat penasaran Sang Prabu untuk mengetahui jawabannya. Dan akhirnya setelah cukup lama perasaannya terombang-ambing antara semangatnya untuk tetap mempercayai kekuasaan Tuhan dengan kenyataan hidup yang tak berpihak kepadanya, setelah melalui diskusi dengan beberapa begawan yang telah menjiwai dan menjalankan laku ilmu kehidupan, maka terbukalah kesadarannya kembali. Bahwa alam semesta adalah ciptaan Tuhan itu tidak terbantahkan, bahwa manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang harus tunduk dan patuh terhadap kehendak Sang Pencipta, itu juga harus disadari. Dan bahwa apapun keinginan kita saat kita pohonkan pinta kepadaNya dan kemudian diberilah kita yang belum sesuai dengan yang diharap, itu adalah jalan yang terbaik yang harus kita terima dengan sabar dan ikhlas. Namun manusia diwajibkan untuk selalu berupaya menempuh segala daya dan upaya untuk memperoleh yang diharapkannya, tentu saja melalui jalan yang benar. Tugas manusia hanyalah, memantabkan niat untuk kebaikan, kemudian berusaha melalui laku ikhtiar semaksimal mungkin, diiringi dengan doa kepada Tuhan Semesta alam dan yang terakhir adalah menyerahkan segalanya kepada kekuasaanNya dengan sepenuh hati kesadaran dan keyakinan bahwa yang diberikan kepada kita, itulah yang terbaik. Ilmu sabar dan ikhlas itulah yang kemudian membawa Prabu Gadi untuk kembali menjalani samadi dengan sungguh-sungguh. Apapun kemudian hasilnya, dia tidak peduli lagi. Dan Tuhan Maha Mendengar dan Maha Penyayang kepada umatnya. Kesabaran Prabu Gadi memperoleh hadiah berupa kabar gembira bahwa prameswari telah mengandung ! Hingga pada saatnya kemudian prameswari melahirkan seorang bayi perempuan mungil yang sangat cantik yang kemudian diberi nama Setyawati. Walaupun ada sedikit kekecewaan di dalam hati Sang Nata karena anak yang lahir ternyata perempuan, namun akhirnya dia dapat menerimanya dengan ikhlas dan berdoa semoga anaknya akan memberikannya cucu laki-laki yang akan menggantikannya setelah turun tahta kelak. Tak diceritakan bagaimana masa kecil Setyawati, namun setelah beranjak dewasa nyata bahwa Setyawati adalah kembangnya negri Kanyakawaya yang harum semerbaknya tersebar merata hingga ke ujung dunia. Banyak raja muda dan satria yang berharap untuk memetik bunga itu, namun Sang Dewi masih menolaknya sebab belum ada yang dirasakan cocok untuk dijadikan sebagai suaminya. Hingga suatu hari, terjadilah suatu peristiwa yang membuat hati Prabu Gadi gundah. Pada hari itu datanglah menghadap seorang brahmana yang berpakaian ala sudra, mengenakan busana seperti rakyat jelata bahkan terlihat telah kumuh dan kusam karena dimakan waktu serta di beberapa tempat terlihat telah koyak. “Nuwun amit pasang kaliman tabe, mugi tinebihna ing siku dhendha, Moga Sinuwun Prabu dijauhkan dari segala malapetaka. Perkenankan hamba menghadap paduka dan memperkenalkan diri. Saya bernama Ricika, putra dari Brahmana Brighu. Maksud kedatangan hamba adalah menjelaskan bahwa berdasarkan sabda Sang Batara Waruna, putra putri Sang Prabu, Dewi Setyawati, sebenarnyalah telah digariskan berjodoh dengan hamba” Seketika Prabu Gadi terkejut dan hatinya menjadi galau. Dalam benaknya kemudian muncul pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan “keberanian” brahmana muda ini mengungkapkan berita yang tak disangka-sangkanya, laksana petir menggelegar di siang hari. “Apakah tidak gila brahmana muda ini ? Aku belum pernah sua dengannya, datang pertama kali langsung mewartakan hal yang sungguh membuatku terkejut. Bagaimana upayaku agar dapat menolak keinginannya dengan halus ?” Pada dasarnya, Prabu Gadi adalah seorang narendra yang lembut hati. Dan lagi pergaulannya selama ini dengan kalangan brahmana sangat akrab dan disadarinya bahwa kaum brahmana telah banyak memberikan pertolongan dalam hidupnya melalui ujaran dan ajaran yang disampaikan, termasuk saat dirinya sekian lama berharap keturunan dan belum terkabul. Sehingga Sang Narendra tidak akan pernah menyakiti hati para brahmana. Tapi bagaimana, apa yang harus aku lakukan ? Bila aku menolaknya, tentu akan sakit hati brahmana ini. Bila aku menerimanya, bagaimana nasib anakku diperistri oleh brahmana muda yang belum aku ketahui asal usulnya dan karakternya serta masa depannya ?. Pertanyaan-pertanyaan itu bersliweran di benak Prabu Gadi dan berlangsung cukup lama. Namun akhirnya Sang Prabu berkata kepada brahmana muda itu “Apakah benar Batara Waruna datang ke hadapanmu dan kemudian bersabda seperti yang engkau ucapkan tadi ? Aku percaya padamu ! Tapi semuanya harus dibuktikan terlebih dahulu. Aku berjanji dengan sepenuh hati, engkau dapat mengambil anakku Setyawati menjadi istrimu setelah engkau dapat memenuhi bebana yang aku minta” “Sumangga Sang Prabu, hamba persilahkan untuk mengatakan bebana, permintaan apa yang dikehendaki” “Ya, kaping sepisan, andika kudu ngaturake kudha cacah sewu, wulune ules abang kang duwe kuping sisih kiwa warna ireng. Kapindo, andika mesti duwe rerupan, kang sok sapa kang andulu andika, temah katujuprana. Kaping telu, andika kudu bisa ngrawuhake Bathara Waruna bebarengan sak lakumu . Dene kang kaping pat, Bathara Waruna mesthi paring sabda dhewe, yen andika iku kang sayekti dadi jodone Setyawati putriku”. “Baiklah Sang Prabu, saya ulangi apa permintaan Paduka. Pertama, saya harus menyediakan kuda sebanyak seribu, bulunya berwarna merah serta yang memiliki telinga kiri berwarna hitam. Kedua, saya harus memiliki penampilan diri hingga sesiapa saja yang memandang maka akan langsung tertarik. Ketiga, saya harus mampu mendatangkan Batara Waruna serta yang keempat Beliau harus memberikan sabdanya sendiri berhubungan dengan Dewi Setyawati sebagai jodoh saya. Benar demikian Sinuwun ?” “Benar, tidak kurang yang engkau ucapkan Ricika !”

Ramayana [11]

Sigra Brahmana Ricika sawusnya midhanget aturira Sang Prabu Gadi, tumuli manjing wana nedya pepanggihan lawan Batara Waruna. Sidhakep saluku juga, ngeningake panca indriya, nutup babahan hawa sanga, sekawan kang binengkas, sajuga kang sinidikara. Tan antara dangu, tumurun saking awiyat Bathara Waruna mrepegi unggyaning Brahmana Ricika. Brahmana Ricika setelah mendengar permintaan Sang Prabu Gadi, segera menuju hutan untuk bertemu dengan Batara Waruna. Mengambil sikap samadi, tangan disedekapkan di dada, mengheningkan panca indra, menutup sumber keluar hawa dari badan, terlihat begitu khusyunya. Tidak begitu lama kemudian maka turunlah dari langit Batara Waruna menuju tempat samadi Ricika. “He cucuku Ricika, gerangan apa yang menyebabkan engkau terlihat sangat sedih terlihat dari pancaran wajahmu yang kusam, redup tanpa cahaya” Mengetahui kedatangan Batara Waruna, segera Ricika menghaturkan sembah dan kemudian menuturkan pertemuannya dengan Prabu Gadi serta mengungkapkan empat permintaan darinya sebagai persyaratan untuk dapat membawa Dewi Setyawati menjadi istrinya. Dengan tersenyum bijak, Batara Waruna kemudian menanggapi “Semua yang diminta oleh Prabu Gadi akan dapat terlaksana. Ayo kita bersama-sama menuju kahyangan” Maka Batara Waruna mengupayakan semua persyaratan yang diminta. Kuda berjumlah seribu yang memiliki bulu berwarna merah serta yang telinga kiri berwarna hitam telah dapat disediakan. Kemudian Brahmana Ricika didandani hingga menjadi orang yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya, Ricika menjadi satria bagus tanpa cacat dan memiliki wajah yang begitu bersinar memancarkan perbawa. Dan kemudian diiringi oleh seribu dewa dewi, Ricika turun menuju negara Kanyakawaya. Melihat kedatangan Ricika, seketika Prabu Gadi sangat terkesan, apalagi setelah bertatap wajah dengan Ricika hatinya menjadi terpikat terpengaruh perbawanya. Seluruh persyaratan kemudian diserahkan dan hari itu juga maka Ricika dikawinkan dengan Dewi Setyawati. Pada saat diadakan pesta pernikahan, ayah dari Ricika, Maharsi Brighu, datang untuk memberikan doa pangestu kepada pengantin dan berucap kepada pengantin perempuan “Anakku angger Satyawati, dari rasa syukur yang rama rasakan hingga dasar hati, maka mintalah kepada rama sesuatu sebagai hadiah dari rama yang engkau inginkan” “Dhuh Kanjeng Rama Resi, telah lama Rama Prabu memiliki keinginan yaitu anak laki-laki. Oleh karenanya kiranya Rama Resi dapat menjadikan lantaran untuk mewujudkan hal itu. Harapan saya kelak anak itu menjadi satria utama namun juga memiliki watak brahmana seperti ayahnya” Terharu Sang Maharsi Brighu mendengar permintaan mantunya. Dirangkulnya dengan penuh kasih seraya berkata. “Permintaanmu itu sungguh menunjukan akan sikapmu yang berbakti kepada orang tua dan suamimu. Dari berkah Tuhan Yang maha Agung, mudah-mudahan tidak terlalu lama lagi engkau dan ibumu bakal memiliki anak laki-laki yang engkau inginkan” Maharesi Brighu kemudian memberikan dua bathok, tempurung, yang satu berisi sego sak rampadane, sajian nasi lengkap dengan asesorisnya, yang satunya berisi powan, air perasan yang harus diminum”. Kemudian kata Sang Brahmana ”Bila engkau berhubungan suami istri, bersucilah setelahnya. Di belakang taman ada pohon pala, engkau peluklah pohon itu. Kelak engkau memperoleh turunan putra yang menjadi bunga bangsa dan menjadi pelita untuk terangnya dunia. Jangan sampai lupa, anakku Setyawati!”. Setelah pahargyan usai dan para tamu sudah pamit pulang termasuk maharsi Brighu yang kembali ke pertapaan, terjadi peristiwa yang sungguh di sesalkan. Karena Dewi Setyawati begitu bahagianya sehingga tidak teliti serta melakukan kesalahan fatal. Tidak seperti petunjuk yang diberikan oleh mertuanya Maharsi Brighu, Sang Dewi justru memberikan kedua bathok itu serta persyaratan yang harus dilaksanakan kepada ayahnya. Nun dipertapaan tempat tinggalnya, Maharsi Brighu melalui penglihatan gaib merasa sangat kaget melihat kenyataan yang tidak sesuai dengan yang telah disampaikan kepada menantunya. Dengan segera Maharsi datang kembali ke Dewi Setyawati seraya berkata “Dhuh anakku Setyawati, mengapa justru kebalikan yang engkau laksanakan. Hal ini tidak bisa lagi diulang dan engkau lakukan lagi. Kelak di kemudian hari, anakmu bakal lahir bersifat satria dan orang tuamu akan memperoleh putra yang dikaruniai watak brahmana”. Dewi Setyawati sangat kaget dan menyesal atas keteledoran yang dilakukan. Badannya langsung lemas, air mata kesedihan dan penyesalan membanjir disela tutur katanya “Kanjeng Rama Resi, pabila memang hal ini telah digariskan oleh Tuhan Yang Maha Agung, moga Rama Resi merasa kasihan terhadap saya yang cubluk ini. Mohon kiranya Rama Resi memintakan kepada Tuhan agar kelak cucu sayalah yang akan dikaruniai watak brahmana”. Tangis penyesalan yang mengharukan akhirnya mampu meruntuhkan rasa kasihan Sang Maharsi Brighu, kemudian ucapnya pelan “Putraku Setyawati, Rama perhatikan bahwa permintaanmu sungguh murni muncul dari dasar hati yang ikhlas. Mudah-mudahan Tuhan memberi berkah kepadamu dan anakmu tetap memiliki watak brahmana dan cucumu kelak menjadi satria utama. Ini yang terbaik bagimu sebagai penebus akan kesalahanmu tadi.” Usai kata-kata terucap, Maharsi Brighu seketika lenyap dari pandangan Setyawati dan Sang Dewipun merasa lega dan bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Tuhan Sang Pencipta Alam. Dan …. waktupun berjalan dengan cepat. Dewi Setyawati kemudian mengandung, setelah sembilan bulan sepuluh hari kemudian melahirkan seorang putra yang sungguh membawa cahya bening. Putranya itu kemudian diberi nama Jamadagni. Sesuai apa yang diramalkan oleh Maharsi Brighu, maka Jamadagni tumbuh dan berkembang menjadi satria tampan dengan kedigdayaan tanpa tanding, namun dia juga senang belajar dari para brahmana tentang ilmu kehidupan, kawruh luhuring budi. Menyaksikan itu semua, Dewi Setyawati sangat bangga dan bahagia atas putranya yang memiliki watak SATRIYA PINANDHITA. Prabu Gadi menyaksikan perkembangan cucunya itu dengan sangat senang. Sehingga kala Sang Prabu merasa telah saatnya untuk lengser keprabon, turun tahta, maka dengan kemantaban jiwa dia kemudian serahkan tahta kerajaan kepada cucunya Jamadagni. Kebahagiaan dan berkah Tuhan seakan tiada putusnya diterima oleh Jamadagni. Setelah menduduki tahta kerajaan Kanyakawaya, diapun berhasil mempersunting seorang putri dari Prabu Prasnajid yang sangat terkenal akan keelokan rupa dan menjadi rebutan para raja dan satria untuk mendapatkannya. Dan yang dipilih oleh Dewi Renuka hanyalah Jamadagni seorang. Cinta kasih keduanya sungguh menggambarkan cinta tulus sejati yang indah tiada terperi. Namun di tengah jaya-jayanya pemerintahan, karna watak Jamadagni memang satriya pinandhita, muncul keinginan untuk melaksanakan laku kabrahmanan setelah mengecap manis pahitnya laku seorang satria menjadi raja yang memerintah di negaranya. Dan niyatnya itu akhirnya dilaksanakan sehingga kemudian dia lengser keprabon. Setelah pamit kepada ayah dan ayah mertuanya maka lengser Sang Jamadagni nilar kamukten sarimbit lan ingkang garwa Dewi Renuka, turun tahta meninggalkan kemulyaan dan berbarengan bersama istrinya Dewi Renuka menuju hutan dan membangun pertapaan yang dibuatnya indah asri untuk menyenangkan hati istrinya yang belum juga mendapatkan momongan. Namun Sang Renuka sebenarnyalah tidak terlalu peduli dengan apa yang telah dilakukan oleh suami tercintanya itu “Kakang Pandhita, seharusnya tidak perlu paduka menciptakan segala keindahan dengan tujuan untuk menyenangkan hati saya. Kakang telah malaksanakan niyat lengser keprabon kemudian mengajak saya untuk turut serta saja, itu sudah merupakan kebahagiaan indah yang saya rasakan. Dan itu adalah wujud darma bakti saya selaku istri untuk selalu setia kepada suami kemanapun dan dimanapun berada serta apapun keadaanya.” Sungguh senang dan bangga perasaan sang Jamadagni mendengar kata-kata dari istrinya Dewi Renuka. Sungguh nyata bila sang Dewi benar-benar cinta lahir batin terhadap dirinya. Walaupun kini mereka hanya berdua di tengah hutan dan jauh dari keramaian, cinta mereka tiada luntur apalagi tidak lama kemudian lahirlah putra-putra buah hati mereka di tengah kedamaian hutan itu. Dan disanalah Ramaparasu mulai melihat terangnya dunia ! Hingga suatu hari, terjadilah peristiwa yang mengubah segalanya. Mengubah kedamaian menjadi malapetaka !

Ramayana [12]

Hutan tempat pertapaan Jamadagni memang hutan yang sepi dan sangat jarang didatangi oleh manusia. Hanya orang-orang yang memiliki keberanian dan ilmu yang tinggi saja, yang mau bersusah payah untuk memasukinya dan tentunya karena memiliki tujuan tertentu. Dan pada hari itu muncullah sosok pemberani itu. Nampak seorang pria yang memasuki hutan dengan gagahnya. Tak ada terbersit rasa takut sedikitpun walaupun dia datang hanya bersendirian. Sepertinya pria itu sedang berburu terlihat dari perlengkapan-perlengkapan berupa senjata panah, tombak, pisau, yang ditempatkan dan digendong dibelakang punggungnya. Dan yang sungguh mengherankan, ternyata sosok itu masih muda dan memiliki tubuh sentosa dan wajah nan sangat rupawan. Siapakah sosok pria itu ? Dia bukan sembarang orang karena dia adalah seorang raja di negara Martika. Dialah Prabu Citrarata yang saat ini sedang memuaskan hobinya yaitu berburu di hutan. Secara rutin, setahun sekali dia sisihkan waktunya untuk sekedar bersenang-senang. Kali ini yang menjadi sasaran adalah hutan-hutan disekeliling pertapaan Sang Jamadagni. Mengapa pergi seorang diri ? Karena itulah kebiasaan yang dilakukan selama ini. Pergi seorang diri ke tengah hutan yang angker dan wingit sekalipun tanpa pengawalan para wadya bala kerajaan, tentu dengan maksud tertentu. Sang Citrarata pada dasarnya adalah orang muda yang suka berpetualang, memiliki kemampuan olah kanuragan yang mumpuni, namun juga memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dengan bersendirian kemanapun berburu ke hutan, maka keindahan-keindahan yang tidak lumrah dia saksikan di sekelilingnya sehari-hari, maka terpuaskan jiwa seninya itu kala mengamati indahnya gelap yang diciptakan oleh jejeran pohon raksasa di dalam hutan, semburat cahya sang bagaskara yang tak mampu leluasa menyinari tanah di bawahnya, danau asri yang bening airnya mengalahkan kilauan permata singgasana kerajaan, dan kicau burung serta bebunyian binatang hutan yang harmoninya begitu indah tertata. Citrarata memang masih muda, memiliki perawakan yang sentosa dan tegap gagah serta dikaruniai wajah yang sangat tampan. Hal ini tak mengherankan, karena meskipun dia adalah seorang pria sejati namun untuk urusan ngadi sarira dan ngadi busana sangatlah diperhatikannya. Sepanjang waktu penampilannya sangat modis dan trendi, sehingga setiap melangkahkan kaki selalu jadi pusat perhatian dan lirikannya bakal mengundang teriakan histeris kaum hawa. Apa lagi bila tersenyum, mampu menarik dan membuat kaum perempuan terpesona terperdaya. Tutur katanyapun lemah lembut, teratur serta runtut dengan menggunakan tata bahasa yang baik dan benar. Lengkap sudah kesempurnaannya sebagai public figure sejati. Sosoknya tegap dan gagah bak kuda tunggangan, wajahnya bersinar begitu rupawan, aura penampilan sungguh menawan, tutur kata bak sastrawan, menjadi dambaan hati para perawan, ditambah lagi dia adalah seorang negarawan. Setelah memasuki tengah hutan, maka Prabu Citrarata merasakan dirinya sebagai manusia lumrah. Dinikmatinya keindahan hutan belantara, pepohonannya, aroma lembab tanahnya, desir maruta yang mengalunkan simfoni alam, bebunyian binatang yang lepas merdeka menyuarakan kedamaian, dan suara gemericik air yang mengundangnya untuk menyatu dengan alam. Ya …. di depannya tlah terpampang segala keindahan alami ciptaan Tuhan Semesta Alam. Di depannya terlihat danau luas yang indah. Airnya begitu bening hingga terlihat dasar danau dan ikan ikan yang berseliweran. Udara cukup panas, apalagi dirinya sudah beberapa hari tidak sempat membersihkan badan sehingga rasanya tubuhnya lengket berbalut keringat dan kotoran, maka bening danau itu mengundangnya untuk segera menyatu dengannya. Tanpa rasa malu, karena memang di sekitarnya sepi tidak ada siapa-siapa, segera ditanggalkan semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Ketelanjangannya adalah kepolosan yang menentramkan hatinya lantaran dirinya merasa tidak memiliki apa-apa lagi. Pakaian indah yang membalutnya selama ini, ibarat sebuah topeng yang menutupi coreng moreng cela dan kelemahan diri yang memang sengaja untuk ditutupinya agar terhindar dari rasa malu dan nista. Maka segeralah dia menceburkan diri ke tengah danau itu. Suasana alam disekitar danau sungguh membuatnya nyaman. Hingga tak sadar kemudian dia menyenandungkan sebuah tembang cinta. Makin lama perasaannya makin menyatu dengan alam sekitarnya sehingga tembangnyapun di dendangkannya dengan suara yang lantang dengan harapan alam sekitarnya akan terhibur dan ikut berdendang. Namun dugaan Citrarata ternyata salah. Kidungan asmara nan indah mendayu-dayu itu, tidak hanya dinikmati oleh pepohonan, bebatuan ataupun ikan-ikan yang ikut menari senang, namun ternyata sayup sayup terdengar juga oleh telinga seseorang. Dan diapun merasa terusik dan mengundang tanya siapakah gerangan yang menyenandungkan tembang di tengah alas gung liwang liwung ini. Suara nan mengalun merdu itu, kemudian membawanya melangkah untuk mendekati asal muasalnya. Dan saat mengetahui yang sesungguhnya, maka orang itu sungguh terpana. Matanya tiada berkedip menyaksikan pemandangan “indah” itu, pikirannya kacau tak terkendali, hasratnya tiba-tiba meluap ingin segera terlampiaskan. Ya … itulah Dewi Renuka istri Sang Jamadagni yang secara tidak sengaja mendengar suara tembang dan kemudian menyeretnya menuju tepi danau dimana Citrarata tengah mandi dalam ketelanjangan. Tetahunan sang Dewi Renuka kadya sinekep jroning wana gung. Adoh saka alam karameyan apadene gebayaring swasana kang anggugah derenging asmara. Senadyan ta tresnanira sang guru laki kacihna tanpa upama, nanging datan timbang lamun katandhing kalawan memanising swara kidung kang andudut rasa. Saya lepas sukmane sang Dewi tatkala mulat sejating kang kekidung. Tirta wening nyipta wewayangan sarirane Sang Prabu ngegla tanpa aling aling, katon gagah sembada, katambah rupa sang Prabu kadi dene Jawata ing Ngargakembang angejawantah. Temah gogrog asmara sang dewi, mangkana pangucape “Jagad dewa bathara! Nembe iki aku mulat sawijining priya kang pideksa sarwa sembada, dedeg ngringin sungsang pengawak banyu. Swara kidunge andudut sukma, solah bawane amerak ati. Dhuh dewa, ora kuwawa titahira nahan hardaning ati.

Ramayana [13]

Bertahun-tahun lamanya Dewi Renuka seolah terkungkung dalam hutan belantara. Bahkan setelah anak-anaknya yang telah berjumlah lima dan mulai beranjak dewasa, sekalipun dia tiada pernah keluar dari hutan itu. Entahlah … rasanya telah lupa dia akan wujud keramaian kota raja dan gebyar suasananya yang dulu mampu menimbulkan percik-percik daya asmara. Walaupun cinta suaminya kepada dirinya nyaris sempurna, namun saat mendengarkan dendang tembang asmara yang dilantunkan oleh orang yang tengah mandi di danau itu, jiwanya tergetar hebat. Membangkitkan kenangan indah yang lama telah dikuburnya dalam-dalam. Suara merdu laki-laki itu membuat hatinya tersayat-sayat seolah merasakan kegagalan cinta yang selama ini dia alami. Apatah lagi saat menyaksikan orang yang tengah melantunkan kidung itu. Jiwanya melayang, angannya terbang menuju alam kenikmatan. Air bening danau, menciptakan bayang-bayang tubuh dari Sang Citrarata yang tanpa penghalang. Dibuai oleh hasrat yang semakin meluap, pemandangan itu sungguh membuatnya gelisah tak berujung tak berpangkal. Dalam pandangannya Sang Citrarata begitu gagah dan merupakan tipe lelaki sejati, ditambah lagi wajahnya yang begitu tampan bersinar seakan laksana Dewata ngejawantah. Runtuh sudah asmara Sang Dewi ! “Jagad dewa bathara! Sungguh baru kali ini aku menyaksikan seorang pria yang begitu gagah dan perkasa juga sangat tampan rupawan dan suara tembangnya begitu merdu membetot sukma. Duh … Dewata, tak kuat aku menahan gejolak hati ini !” “Duh Dewa asmara, dengarkanlah tangis hati ini, belas kasihanilah ragaku ini. Lepaskanlah asmaramu terhadap priya yang sedang menembangkan kidung itu. Dan juga …. duh … Dewa yang agung, kobarkanlah api asmara orang itu agar lega pula rasa hati ini yang tengah dirundung bayang-bayang asmara ini” Pikiran Dewi Renuka telah dipenuhi oleh hasrat asmara yang menggelegar. Nalarnya telah pudar, akal sehatnya tak berdaya lagi diintimidasi oleh angan tentang keindahan dan kenikmatan. Gusar penasaran tlah menyelimuti seluruh hasratnya, menutup rapat rasa malunya. Apalagi saat dirasakan bahwa orang yang diharapkan itu tidak ngrewes, seolah tidak peduli akan kehadirannya. Mungkin juga tidak tahu ! Maka tanpa mempedulikan lagi tata susila karena memang puncak birahi telah mencapai diubun-ubun, seketika Renuka menanggalkan semua pakaian yang melekat didirinya. Glewa glewa kaya golek kencana, tubuh telanjang Renuka menceburkan diri ke dalam air bening danau mendekati Sang Citrarata yang bagaimanapun sangat terkejut menyaksikan datangnya Dewi Renuka yang tak disangka-sangkanya itu. Pungun pungun sakedheping netra, mirsane kaendahan wanita sulistya kang anyaketi ing ngarsanira. Kadereng sengseming birahi, sakarone wus datan enget ing purwa duksina, ora kuwagang angampet branta asmara. Kang karasa amung nikmat jroning nistha kang linakonan. Weninging tirta tlaga kacihna kaya dene segara madu, sampad rasa kang kadidene munggah arga kembang, kekarone gya mentas ing ndhedharatan. Datan kawursita kang samya lelumban olah kridhaning priya wanudya, nalika iku sang surya wus gumlewang ing cakrawala. Terbengong-bengong Sang Citrarata menyaksikan keindahan wanita yang mendekat kepadanya. Tak perlu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, maka akibat dirinyapun telah dipenuhi oleh gelora nafsu birahi, maka tanpa mengeluarkan satu katapun akhirnya keduanya tak kuasa menahan bara asmara. Yang terasa hanyalah nikmat dalam nista yang dikakoninya. Beningnya air danau seolah menjadi segara madu, lautan manis madu yang nikmat direguk menghanyutkan sukma, laksana mendaki arga kembang, puncak yang dipenuhi oleh bunga-bunga kenikmatan. Semua dicampakkan untuk menggapai kenikmatan, hingga batas manusia hanyalah rasa lelah dan kesadaran. Tak dirasakan ternyata waktu telah menjelang senja. Renuka kemudian kembali ke pertapaan. Letih badan Sang Dewi terlihat dari pucat wajahnya dan lemas langkahnya. Begawan Jamadagni adalah begawan yang telah mencapai tataran tinggi keilmuannya. Tak ada sesuatu yang tersamar dari luar dan dalam lubuk hati istrinya. Seketika tahulah dia dengan apa yang sebenarnya telah terjadi pada istrinya tercinta. Gempal sumendhal sumedhot rasaning driya Sang Resi, perih nelangsa lamun rinasaa. Nanging bawane pandhita kang wus menep, Renuka kaawe ngadhep marak ing ngarsa. Ririh sabdane Sang Jamadagni. Hancur lebur rasa hati Sang Resi, sangat perih nelangsa kalau dirasakan atas selingkuh raga dan hati sang istri. Namun segala tindakan Sang Begawan menunjukakan kebijaksanaannya, Renuka diminta untuk mendekat dan menghadap kepadanya. Pelan Sang Jamadagni berkata “Nalika semana kita anggadhuh glodhoging gana madu kang arum arum gandane, manis rasane. Nanging wektu saiki, madu sa ganane wus ilang musna kasempyok ing aradan, kenthir kendhang muspra ilang tanpa tilas”. “Pada saat lalu, kita berdua menikmati manisnya madu cinta dalam biduk yang kita tempati berdua kala mengarungi kehidupan ini. Saat ini, tidak kurasakan lagi manis madu, semuanya hilang musnah, bahkan biduk kitapun lenyap di telan oleh ganas gelombang !” Kekembeng netrane Begawan Jamadagni kairing swara kang serak datan kuwagang ngampet nalangsaning nala. Begawan Jamadagni berlinangan air mata dan suaranyapun menjadi serak tak kuasa menahan nelangsanya hati. Dewi Renuka tertunduk pasrah di hadapan suaminya. Gemetar badannya menahan kesedihan atau mungkin juga ketakutan atas perbuatan yang telah dilakukannya. Berjuta malu menghunjam sangat dalam ke dasar hatinya. Di hadapan Sang Jamadagni, dirinya merasa tidak harganya sama sekali. Dirinya merasa sebagai manusia, sebagai istri, yang senista-nistanya. Nanging sakecap saklimah tan bisa linairake. Rasa luput kang ngliput kadi dene pedhut, datan kuwawa ngobahake lathine Renuka. Rasa bersalah membuat mulutnya tak mampu berucap. Ah …. sungguh dirinya seakan sampah yang tak berarti apa-apa. Sampah yang adalah barang yang tak terpakai dan telah dibuang, sampah yang menimbulkan aroma tak sedap bagi sekitarnya dan sampah yang harus dilenyapkan dengan di pendam dalam tanah atau di bakar saja ! Diceritakan, para putra yang baru saja dari tempat sembahyang, telah datang ke hadapan ayah dan ibunya. Jamadagni segera meminta kelima putranya untuk menghadap. Dengan senyum mengembang, kelima putranya melangkah mendekat kedua orang tuanya. Terlihat begitu indah menyenangkan senyum anak-anak mereka, biasanya merekapun dengan tersenyum kemudian memeluk erat satu persatu anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Namun saat ini, senyum murni anak-anak itu, dirasakan laksana pedang tajam menusuk jantung. Menyiksa ! Sakit ! Perih tiada terkira. Kemudian Resi Jamadagni menceritakan tentang apa yang sebenarnya telah terjadi terhadap ibu mereka. Anak-anaknya begitu terkejut mendengar berita itu. Tak disangkanya bahwa sang ibu yang selama ini begitu mereka kasihi dan menjadi contoh dalam segala perbuatan baik, di saat ini telah melakukan perbuatan yang sangat terkutuk, melakukan selingkuh. “Ibumu saiki wus darbe sesandhang rasa nistha ing ngareping dhiriku pribadi lan kowe kabeh, mula tinimbang sesa sugenge ibumu tansah anjereng sasara wirang, mara tindakana dhawuhe pun rama. Tan ana sawiji wiji para pujangga kang kuwawa anggamabarake isen isening atine ibumu kang wus rumasa kadya dene leltheking sarah. Yen sira kabeh padha tresna marang ibumu lan sira kuwawa anglepas siksa kang anglimput atine, untapna patine ibumu!

” Ramayana [14] “

Ibumu sekarang sungguh telah berbuat kenistaan di hadapan diriku dan kalian semua. Oleh karenanya daripada sisa hidup ibumu dihantui rasa bersalah dan rasa malu, maka segera lakukanlah apa yang ayah perintahkan. Bila kalian cinta kepada ibumu dan ingin melepaskan nista derita yang kini membelenggu ibumu, maka segera antarkan kematian ibumu !” Bak disambar geledek di siang hari hati kelima putra mendengar perintah ayahnya yang di luar dugaan dan nalar itu. Di dunia ini, mana ada seorang anak yang tega dengan sengaja membunuh ibunya yang jasanya tiada pernah tergantikan, sebagai lantaran terlahir di dunia, membesarkan, mendidik dan menyayangi dengan sepenuh hati tanpa pamrih. Jangankan manusia, harimau yang ganaspun, mana mau membunuh anaknya ataupun sebaliknya. Kini ayahnya memerintahkan suatu hal yang mustahil bakal dilakukan. Kelima Jamadagni putra semuanya membisu terdiam laksana arca, hanya mata mereka saja saling pandang pandangan mengungkapkan kegundahan hati. “He … kalian semua ! Mengapa tidak segera mengerjakan apa yang aku perintahkan. Apakah kalian berani menolak perintahku !” Rasa bimbang, ragu, bingung, takut, bingung berbaur menciptakan suasana yang mencekam di dada para Jamadagni putra. Mereka paham semua akan sifat ayahnya, Resi Jamadagni, yang biarpun kata-kata yang keluar dari mulutnya begitu lembut dan wajahnya pun masih tetap teduh, namun kali ini amarahnya telah mencapai puncak. Dan bila itu terjadi, maka tidak ada satupun di antara mereka yan berani membantah apalagi menentang. Namun beberapa saat kemudian, tiba-tiba Ramaparasu melangkahkan kakinya mendekati tempat ayahnya berdiri. Jamadagni menanti beberapa saat untuk melihat keempat anaknya yang lain mengikuti langkah Ramaparasu. Namun yang diharapkan, tetap berdiri tegak membatu. Maka bersabdalah Sang Jamadagni “Kalau kenyataannya demikian, kalian berempat bukan sebangsa manusia !” Dan … terkena tuah dari Sang Jamadagni maka keempat anaknya yang berdiri terpaku tadi, seketika berubah menjadi sato buron wana, hewan buruan di hutan. Ramabargawa yang menyaksikan itu semua, tergetar hebat hatinya. Saudara-saudaranya adalah belahan jiwanya. Mereka selalu menjadi teman sehari-hari dalam bermain, dalam berdiskusi, dalam gelak tawa dan pula tempat berbagi kala ditimpa lara. “Ramaparasu!” Jamadagni memanggil Ramaparasu. “Inggih wonten dhawuh kanjeng rama” dengan cepat Ramaparasu menjawab dengan takut-takut “Sanggupkah engkau melaksanakan apa yang rama perintahkan tadi ?” “Sendika dhawuh kanjeng rama!” “Segera pentangkan busur panahmu, arahkan arah anak panahmu dan berikan jalan ibumu kepada kasidan jati, jalan menuju kematian !” Setegar apapun jiwa Ramaparasu, melaksanakan perintah ini sungguh menyiksa hati. Sekeras apapun hati Ramaparasu, sekilas melihat ibunya yang sangat di cintainya dan dihormatinya, tertunduk lesu dengan wajah pias dan basah penuh air mata, sungguh merobek-robek jantungnya. Namun bayangan wajah ibunya dicobanya untuk di buang jauh-jauh dan digantikan dengan sosok ayahnya. Dimantabkan hati dan keberaniannya untuk melaksanakan pekerjaan yang maha berat ini. Akhirnya, diperamkan matanya, dan dengan tangan gemetaran dan basah oleh keringat dingin, dilepaskannya anak panah itu yang dengan cepatnya kemudian telah menembus dada Dewi Renuka. Tewas seketika Dewi Renuka ! Genangan darah menutupi sekujur tubuh Sang Dewi. Dan meskipun tiada setetes air matapun keluar dari mata Ramaparasu, namun hatinya telah basah bersimbah duka nelangsa dan penyesalan. “Ramaparasu, sungguh engkau adalah satu-satunya putraku yang teguh gagah perkasa !” Jamadagni memuji Ramaparasu, kemudian dilanjutkannya “Nyata engkaulah satu-satunya putraku yang sangat patuh dan tanpa banyak bicara segera mengerjakan apa yang aku perintahkan. Oleh karenanya sebagai wujud penghargaan rama, maka segera katakanlah apa permintaan yang engkau inginkan sekarang” Mendengar tawaran ayahnya, maka seketika muncul harapan untuk kembali kepada kedamaian yang dirasakan sebelum peristiwa hebat ini terjadi. Kemudian Ramaparasu berkata “Inggih … berjuta terima kasih saya sampaikan kepada kanjeng rama. Ada tujuh permintaanku : pertama, besar harapan saya untuk hidupnya kembali ibu seperti waktu lalu; kedua : moga saudara-saudara saya juga dikembalikan kewujudnya seperti semula sebagai manusia sejati; ketiga : moga hilang semua perkara yang menyebabkan sakitnya hati kanjeng rama, ibu beserta saudara-saudaraku akibat perbuatan nista yang telah dilakukan oleh ibu; keempat : moga sayapun terhindar dari dosa karena telah membunuh kanjeng ibu; kelima : jadikanlah saya manusia tanpa tanding yang tak seorangpun mampu mengalahkan saya; keenam : moga saya diberikan umur panjang; dan yang terakhir : perkenankan putra paduka akan mati jika dan hanya jika Bathara Wisnu sendiri yang menjemput kematianku” “Bagus anakku ! Permintaan-permintaanmu tadi sungguh merupakan permintaan yang tepat, terpuji dan tidak setiap orang memiliki pemikiran seperti dirimu. Tunggulah sebentar, ramamu akan memintakan sih dari Yang Maha Kuasa agar semua keinginanmu terkabul !” <<< ooo >>> Seolah terbangun dari mimpi buruk, Dewi Renuka mengejap-ngejapkan mata dan merasa heran mengapa tertidur di bawah. Pada saat yang bersamaan, keempat saudara Ramaparasu-pun kembali kepada wujudnya seperti semula. Hilang semua memori ingatan mereka terhadap peristiwa yang terjadi belum lama tadi. Bahkan memori peristiwa nista yang dialami Sang Renuka-pun musnah tak berbekas. Seolah tidak pernah terjadi bagaimana dirinya melakukan selingkuh dengan Prabu Citrarata. Suasana pertapaan telah kembali seperti semula. Suasana riang gembira, damai tenteram kembali melingkupi pertapaan Sang Jamadagni. Masing-masing sibuk dengan pekerjaannya. Dewi Renuka seraya bersenandung, sibuk memetik dedaunan di pekarangan untuk dimasak dan menjadi hidangan keluarga. Ramaparasu beserta saudara-saudaranyapun tengah berburu hewan hutan untuk dijadikan sebagai santapan makan malam nanti. Namun hidup adalah laksana gerak cakra manggilingan yang berputar terus tanpa henti. Suka duka, susah senang, mudah sulit, damai perang, akan selalu berganti mengunjungi kita. Diceritakan, pada saat Resi Jamadagni dan para putra tengah berburu di hutan, sementara Dewi Renuka sendirian berada dipertapaan, terdengar hingar bingar suara prajurit yang diiringi dengan derit suara kereta serta ringkikan kuda mendekat ke pertapaan. Wadya bala pasukan dari manakah itu ? Ternyata mereka berasal dari negara Hehaya. Sorak sorai para prajurit mengejutkan Dewi Renuka. Bersegera Sang Dewi meneliti apa yang terjadi. Ternyata di pekarangan pertapaan telah dipenuhi oleh pasukan yang dipimpin langsung oleh raja bangsa Hehaya. Dewi Renuka pun kemudian menyambutnya dengan gugup karena suami dan anak-anaknya sedang tidak berada di pertapaan. Dipersilahkan untuk beristirahat di pekarangan sejenak sambil menunggu kedatangan Resi Jamadagni. Sang Prabupun sebenarnya cukup senang dengan sambutan tuan rumah, namun bawahan raja bertindak tak tahu diri. Dengan tak tahu malu dan main paksa, diperintahkan Dewi Renuka untuk memberikan lembu yang akan disembelih dan dijadikan santapan wadya bala. Dan Sang Prabu Hehaya hanya diam saja sepertinya membiarkan tingkah polah prajuritnya itu. Bingung apa yang harus dilakukannya, Dewi Renuka berucap “Sang Prabu, lembu ini hanya satu-satunya yang kami punyai. Lembu ini juga menjadi sarana untuk memberikan sesaji kepada dewata bila suami saya sedang memujanya. Bagaimana jadinya seandainya suami saya mengetahui hal ini” Dengan pongah Sang Prabu itu menjawab “Apakah aku harus takut kepada suamimu ? Apakah kamu tidak mengetahui bahwa aku ini seorang raja yang memiliki kewibawaan dan kedigdayaan yang tiada tanding ? Seketika diam seribu bahasa Dewi Renuka mendengar jawaban itu. Namun sorot matanya yang tertuju kepada raja itu, tiada mengenal rasa takut, malah terkesan menantang. Melihat reaksi Sang Dewi, Raja Hehaya tertawa terbahak-bahak dan menganggapnya remeh. Malah seperti hendak menunjukan kekuasaannya, segera diperintahkan para prajuritnya untuk menyeret lembu itu. Dewi Renuka yang menyaksikan semua itu hanya terdiam dengan hati yang sesak. Apa dayanya seorang perempuan ? Hatinya tambah nelangsa saat mendengar suara lolong kesakitan lembu yang di seret sepanjang jalan oleh pasukan Hehaya itu. Tidak lama kemudian, Resi Jamadagni dan para putra datang ke pertapaan. Mereka sangat terkejut menyaksikan keadaan pekarangan yang berantakan seperti habis tertimpa prahara angin ribut. Dewi Renuka kemudian menceritakan apa yang telah terjadi tadi. Resi Jamadagni yang mendengar cerita istrinya itu segera memerintahkan Ramaparasu “Segeralah engkau cegat raja Hehaya, mintalah lembu kita secara baik-baik. Tapi kalau mereka enggan untuk memberikan kembali, terserah apa yang engkau akan lakukan Ramaparasu !

Ramayana [15]

Tanpa menunggu perintah untuk yang kedua kalinya, Ramaparasu yang berwatak prajurit segera bak kilat mengayunkan langkah kakinya mengejar pasukan raja Hehaya. Dan karena pergerakan pasukan Hehaya tidaklah diburu waktu, bergerak dengan pelan-pelan, maka tidak berapa lama kemudian Ramaparasu berhasil menyusulnya. Tidak terlalu sulit untuk mencari pemimpin pasukan yaitu raja Hehaya karena dapat dilihat dari pakaiannya yang nampak sangat mewah dan berjalan paling depan. Maka segera melesat Sang Ramaparasu ke hadapan raja Hehaya “He keparat … berhenti dahulu ! Engkau raja Hehaya, bukan ?” bentak Ramaparasu menghentikan langkah raja Hehaya “He …. siapa engkau berani berkata-kata tidak sopan kepada aku seorang raja besar !” dengan mata melotot raja Hehaya balik bertanya “Tidak perlu engkau tahu siapa namaku. Terlalu rendah engkau mengetahui siapa aku. Aku hanya menjalankan perintah rama Jamadagni untuk meminta kembali lembu yang engkau rampas dari pertapaan kami” “Huh … sombong sekali engkau anak muda ! Siapapun dirimu aku tak takut, bahkan dewata sekalipun bila menghalangi langkahku, maka kan kulawan dan kalau perlu akan aku antarkan nyawanya ke neraka jahanam !” “Engkau berikan lembu itu atau tidak !” “Kalau aku tidak mau, engkau mau apa ?” Dengan cepat maka segera di seranglah raja Hehaya itu. Rupanya sesumbar raja Hehaya hanya di mulut belaka, kedigdayaannya tidak sebanding dengan kekuatan Ramaparasu. Walaupun dengan tangan kosong, Ramaparasu sanggup mendesak lawannya dengan hebat. Dan tidak berlama-lama akhirnya pukulan tangan kosong Ramaparasu mengenai dengan telak dada raja Hehaya dan seketika robohlah raja pongah itu dengan nyawa yang sudah melayang. “Ternyata tidak seberapa kedigdayaan raja yang suaranya memekakan jagat tapi kosong belaka. Nyata bila engkau hanyalah titah yang memiliki watak angkara, dan budimu sungguh tercela.” Para prajurit yang menyaksikan rajanya terbunuh, segera mengepung Ramaparasu. Maka terjadilah pertempuran hebat yang sebenarnya tidak seimbang. Seandainya pertempuran dilakukaan dengan satu lawan satu, tentu Ramaparasu dengan mudah akan membabat habis prajurit-prajurit itu. Para prajurit adalah pasukan yang terlatih, maka mereka dapat memanfaatkan jumlah yang banyak untuk merepotkan Ramaparasu dengan menyerang dan bertahan melalui formasi-formasi yang mereka bentuk. Disaat Ramaparasu dikeroyok oleh ratusan prajurit Hehaya, ternyata ada yang memanfaatkan momentum itu dengan bertindak curang. Orang itu tiada lain adalah patih Hehaya. Dengan membawa satu kompi pasukan yang tidak ikut mengeroyok Ramaparasu, secara diam-diam dia bergerak menuju pertapaan Resi Jamadagni. Rekyan patih Hehaya melihat gelagat bahwa tidak akan sanggup dia dan seluruh prajurit-prajuritnya untuk melawan apalagi membunuh Ramaparasu, maka perlu dilakukan cara lain agar mampu membalas dendam atas kematian rajanya oleh Ramparasu. Maka diperintahkan kepada prajurit yang ikut dengannya untuk segera ke pertapaan Resi Jamadagni untuk membunuh ayah dari Ramaparasu, Resi Jamadagni, dan kalau perlu membumi hanguskan pertapaan itu. Sementara itu Ramaparasu tidak mengetahui rencana licik yang telah dijalankan oleh patih Hehaya. Dia terlalu disibukkan oleh pertempurannya dengan para prajurit Hehaya yang jumlahnya lumayan banyak itu. Dan di pertapaan, Resi Jamadagni yang masih merasa gusar terhadap tindakan raja Hehaya, menjadi terkejut melihat bahwa pertapaan telah di kepung oleh sejumlah pasukan yang secara perlahan merangsek ke dalam. Pada waktu lalu, sebelum menjadi seorang resi dipertapaan itu, Jamadagni adalah seorang satria, seorang raja yang memiliki kesaktian yang pilih tanding. Namun setelah menjadi begawan, semua kemampuan yang mumpuni dalam hal olah krida, dilepaskan dan di buang jauh jauh karena hidupnya hanya didedikasikan untuk kedamaian dan menghindarkan diri dari kekerasan. Telah ditetapkan dalam hidupnya kini, untuk tidak lagi menggunakan kekerasan. Sehingga saat para prajurit Hehaya mulai mendekat kepada dirinya, Jamadagni tiada melawan sama sekali. Harapannya hanyalah agar Ramaparasu segera datang untuk membantunya mengeluarkan diri dari ancaman kematian ini. Namun yang di harapkan masih “asyik” bertempur melawan keroyokan prajurit Hehaya. Dan …. dengan licik dan tidak memiliki jiwa satria sama sekali, para prajurit Hehaya di bawah pimpinan patihnya kemudian menghujani tubuh Jamadagni dengan berbagai senjata yang hanya diam tiada melawan sedikitpun. Rebah Jamadagni dengan tubuh penuh senjata sehingga nyaris seluruh tubuhnya dipenuhi oleh darah. Menjerit Dewi Renuka dan keempat saudara Ramaparasu mengetahui suami dan ayahnya diserang dengan kejam. Oleh Dewi Renuka tubuh suaminya dipangku dengan hati yang tersayat dalam penuh kepedihan menyaksikan keadaan Sang Jamadagni yang sungguh mengenaskan. Namun takdir berkuasa, Sang Jamadagni tidak lama kemudian menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan istrinya tercinta. Sungguh biadab ! Mengetahui kematian resi itu, seketika bersoraklah pasukan dari Hehaya. Pekik sorak itu membangkitkan kesadaran Ramaparasu. Para pengeroyoknya telah habis tiada tersisa. Sorak sorai itu di dengarnya berasal dari pertapaan ayahnya. Maka dengan penuh rasa kekawatiran segera melesat dia menuju ke pertapaan. Betapa terkejutnya dia menyaksikan bahwa pertapaan ayahnya telah dikepung dan dipenuhi oleh prajurit Hehaya yang lainnya. Dan hatinya bertambah terkejut kala menyaksikan tubuh ayahnya yang telah terkulai di pangkuan ibunya yang hanya mampu menangis. Sontak, diraihnya busur panah raksasa senjata andalannya. Dihunuskan Bargawastra, senjata pusakanya yang berupa panah yang sangat besar dan memiliki kesaktian yang ngedab ngedapi, yang sungguh luar biasa dan menakutkan. Berdiri dengan gagahnya Sang Ramaparasu laksana Batara Kala hendak menghancurkan dunia, mata mencorong menyala nyala seperti Bathara Yama bersiap menjalankan tugasnya mencabut nyawa, wajah memerah menyimpan amarah, dan …. meluncurlah panah Bargawastra menuju ke arah barisan prajurit Hehaya dengan cepatnya. Dan secepat itu pula kemudian terdengar jerit mengerikan dari para prajurit yang terkena daya kesaktian panah Bargawastra, centang perenang laksana tersapu badai keadaannya. Kemudian sunyi …… karena orang-orang Hehaya telah diam dan tewas ! Mata Ramaparasu kemudian tertumbuk pada sosok mayat yang begitu dikenalnya, begitu dihormati dan dicintanya, yang kini berada dalam pangkuan ibunya. Matanya basah menahan sesak dada, hatinya basah dalam kesedihan, jiwanya nestapa dalam penderitaan. Surem … surem … surem diwangkara kingkin Surem diwangkara kingkin lir manusa kang layon, dunya ilang ingkang memanise,wadananira landhu, kumel kucem rahnya maratani Saklimah tan ana kumucap, lon lonan jangkahe Ramaparasu nuju marang jasade ingkang rama, sigra rinangkul ingarasan wadanane. Angigit igit kabranang rasaning driya, kaya mbaledhag dhadhane kang ngampah sruning deduka. Dibelainya wajah sang kekasih yang telah meninggalkan dunia ini, sungguh nelangsa hatinya menyaksikan sekujur badan ayahnya tercinta teranjap dipenuhi oleh senjata-senjata beraneka macam. Kemudian di peluklah sang ibu yang hanya diam membisu karna tangis tlah habis ditumpahkan …. Setelah itu … maka para brahmana yang bertempat tidak jauh dari pertapaan Jamadagni kemudian berdatangan untuk ikut mengiringi lelayon Maha Resi. Kekes angles swasana ing asrama tan ana kang anyabawa kaprebawan rasa duhkita. Kayu gaharu cendhana sari, rasamala, lan kenanga wus sangkep samapta ambesmi layone Sang Jamadagni, sumusul gumrenggeng swara pepuja sesanti, angiringi upacara kang sigra katindakake. Dene ing pancaka wus mangalad alad mubal urubing dahana. Namun tanpa ada yang menduga, tiba-tiba Ramaparasu melompat berdiri dan kemudian mengucapkan sumpah Para kang rawuh ing upacara, Kanjeng ramaku sawijining raja. Ing sisa sugenge milih urip ing jagading kabrahmanan. Kanjeng rama ora remen mungguhing pakarti adigang adigung adiguna kang sumandhang ing para satriya kang pepayung kaya dene laku darma. Mula saka kuwi, yen ta tataning ngaurip isih ana golonganing satriya, mesthi katentreman lan karahayon ing ndonya ora bakal cinipta, langgeng jroning daredah! Darma satriya amung perang lan perang! Mungguhing para satriya, darma kadi dene bab kang paling mulya ing dunya iki. Muga muga dewa paring murka marang kabeh para satriya! Wektu iki aku prasapa, muga para kang rawuh ing upacara lan jagad sak isine anekseni, tumuju marang karahayoning dumadi, ing ngendi wae, kapan aku ketemu pawongan saka golonganing satriya, luwih luwih yen aku ngrungu kabar, andulu tingkahe para satriya, bakal tak ilangake kabeh para satriya mau saka tata panguripan lumantar panahku Bargawastra lan sanjata wadungku. Muga seksenana, kondangana sumpahku, kabarana warta iku hingga angebaki sakindenging jagat raya!

Ramayana [16]

Dan sejak saat itulah nama Ramaparasu begitu terkenal di seantero jagat. Sumpahnya tersebar bak udara panas yang dengan cepat merambah kemana-mana. Sumpahnya menciptakan kekalutan dan kekawatiran kaum satria. Sosok Ramaparasu kemudian digambarkan kegagahannya melebihi kenyataannya. Apalagi setelah korban pertama berjatuhan. Anak turun raja Hehaya yang dalam benaknya adalah penyebab kematian ayahnya, dicari dan kemudian ditumpas habis tak bersisa. Sepak terjang Ramaparasu semakin kondang membahana ! Sumpahnya membawa dirinya berkelana dari satu negara ke negara lain untuk mencari mangsa para satria. Tak terhitung sudah berapa ratus, bahkan mungkin sudah mencapai ribuan jiwa para satria yang menjadi korbannya. Namun Ramaparasu adalah manusia biasa seperti halnya yang lain, di karuniai juga nalar dan pikiran, ditimpakan juga kebahagiaan dan kesedihan, serta kejenuhan dan kesepian. Sekian lamanya berpetualang dengan tujuan menghabisi kaum satria, dirinya laksana kehausan dan kemudian minum air laut sebagai pengusir dahaga. Bukannya lenyap rasa haus, malah semakin menjadi-jadi. Jenuh dan jemu kerap menghampirinya. Betapa tidak ? Nyaris tak pernah ada yang mau berbagi dengannya, baik sekedar bersapa ataupun mengobrol santai, apalagi berlama-lama berdiskusi tentang hakekat kehidupan. Jangankan untuk duduk berduaan dengannya, baru mendengar namanya saja orang-orang sudah ketakutan setengah mati dan kaum satria segera berupaya mencari tempat persembunyian untuk menghindarkan diri dari sosok Ramaparasu. Hidupnya seperti bersendirian, sebatang kara ! Dan juga dalam pikirannya kerap muncul pertanyaan. Sekian lama dia telah berusaha menghilangkan kaum satria dari muka bumi dengan membunuhinya, namun anehnya tiada pernah habis-habis, selalu saja kemudian muncul kaum satria baru. Dalam satu negara ketika rajanya telah dibunuhnya, tidak beberapa lama kemudian tlah didengarnya muncul pengganti raja yang baru. Bosan ! Jenuh ! Tak tahu harus berbuat apa lagi Sang Ramaparasu. Apalagi jalan hidup yang telah dilaluinya begitu panjang sepanjang usianya kini. Entahlah … telah berapa generasi baru muncul di muka bumi, dirinya tetaplah Ramaparasu yang memiliki sumpah dan sepak terjang sama seperti dulu. Sekeras apapun watak Ramaparasu, dia adalah manusia biasa. Rasa bosan hidup kini jadi sering menghinggapinya. Benar, tuah ayahnya Sang Jamadagni memang terjadi bahwa umurnya bakal panjang. Tak dipungkirinya hal tersebut, karena dirinyapun telah merasa tua walaupun secara fisik tak terlalu berbeda dengan sewaktu muda dahulu. Dan …. di dasar hatinya yang jujur …sebenarnyalah telah bosan dirinya menjalani kehidupan yang monoton seperti itu. Keinginan untuk segera mengakhirinya kerap muncul dan menyelimuti sikapnya. Saat perasaan seperti itu datang, wajahnya yang keras seketika luruh. Dan di saat itulah kerap dirinya menangis haru merenungi perjalanan hidupnya. Saat itulah kematian dirindukannya ! Suatu saat dirinya pernah berdialog dengan seorang brahmana yang kemudian sedikit melumerkan kekerasannya. Kemudian ditunjukan jalan menuju ke kematian melalui titisan Wisnu yang bersemayam dalam diri raja Maespati, Prabu Harjuna sasrabahu. Namun kematian belum juga diperolehnya ! Selalu diingatnya dialog antara dirinya dengan brahmana yang sampai dengan saat inipun dia tidak mengetahui asal usul dan namanya “Kamu tahu, siapa aku ?” “Seisi jagat tidak ada manusia yang tidak tahu siapa sesungguhnya engkau !” “Mengeapa demikian” “Tanda-tanda yang terlihat dari sosokmulah yang mengatakan demikian. Sosokmu yang gagah tinggi besar dengan menyandang kapak raksasa dan panah Bargawastra tlah mengabarkan siapa dirimu. Sorot matamu yang tajam dan membuat jerih setiap orang, itulah yang menjadikan kekuatan pribadimu dalam menjalankan keyakinanmu” “Mengapa engkau menghampiriku, adakah maksud yang engkau hendak sampaikan dengan kedatanganmu ? Apakah engkau tidak takut kepadaku ?” “Yang aku takuti dan sekaligus aku cintai hanyalah Tuhan yang menciptakan diriku dan semesta alam ini. Dialah yang berhak untuk menentukan jalan hidup dan matiku. Dan sebenarnyalah tiada maksud hati yang hendak kusampaikan kepadamu karena pertemuan ini telah diatur oleh Tuhan Semesta Alam. Semua telah ditetapkan di waktu dan tempat ini sehingga dirimu dapat sua dengan diriku. Jadi berbaik sangkalah engkau wahai Ramaparasu ! Apakah dirimu tidak mengingat bahwa ayahmu Sang Jamadagni adalah juga seorang brahmana ?” Diingatkan akan ayahnya tercinta, rasa dihentak jantung Sang Ramaparasu. Hatinya menjadi tenang meskipun perih dirasakannya, hingga kemudian berucap “Tutur katamu yang bijaksana dan lembut membuat jiwaku luruh. Sesungguhnyalah memang hatiku tengah dirundung nelangsa. Engkau tentu telah melihat apa yang ada dalam hatiku. Rasa hatiku seakan tak kuat untuk menahan kekuatan piciknya nalar budiku!” “Tidak benar kalau engkau meyakini bahwa para brahmana mampu mengetahui segala apa yang tersimpan dalam hati setiap orang. Yang aku ketahui hanyalah bahwa dirimu terlihat tidak seperti biasanya, dirimu terlihat begitu lemah seolah tengah menahan beban berat yang engkau sandang” “Coba jelaskan apa yang engaku lihat dalam diriku !” “Sikap yang engkau miliki, rasa nelangsa, rasa cinta, rasa benci, membuat celaka, menolong orang, mencari ilmu dan lainnya, pada dasarnya hanya akan mengarahkan menjauhi apa yang disebut sebagai kebenaran sejati” “Kalau memang demikian, menurutmu apakah yang disebut kebenaran sejati itu ?” “Semua itu sebenarnya bermuara kepada apa yang disebut sebagai darma atau kewajiban. Menghancurkan musuh yang terlihat dan nampak kasat mata, itu lebih mudah dan itu bukan darma yang mengarah kepada kebijaksanaan hidup yang sejati. Mengapa ? Karena yang seperti itu, pada kenyataannya masih dilandasi oleh kebijaksanaan dari kebenaran pribadi dan golongan. Engkau tentu mengerti bahwa kebenaran suatu golongan belum tentu sesuai dengan kebenaran yang diyakini oleh golongan lain. Pada hakekatnya sikap kita dalam menyembah dan berbakti kepada Tuhan Yang Maha Agung, seharusnya akan melahirkan sikap belas kasih, cinta kepada sesama. Namun walaupun kita telah berulang kali membaca dan mempelajari ajaran kitab suci serta setiap hari slalu sujud kepada Gusti, tapi perbuatan kita masih sering mengikuti kebenaran yang diyakini serta memaksakan kehendak kepada orang lain yang berbeda keyakinannya, dengan alasan bahwa golonganmulah yang paling benar dan yang diberi kewajiban untuk menentramkan dunia, maka sebenarnyalah itu perbuatan yang salah !” “Heh …. engkau sepertinya menyindir apa yang aku lakukan ?!

” Ramayana [17] “

Tidak ! Sama sekali aku tidak menyindir apa yang engkau lakukan Ramaparasu ! Sudah aku katakan tadi bahwa aku hanya sekedar lewat dan bertemu denganmu. Namun berfikirlah dengan jernih, endapkanlah dalam hatimu apa yang aku sampaikan tadi” Dan … ucapan terakhir bijak sang brahmana tadi, semakin meluruhkan jiwa Sang Ramaparasu. Dirasakannya dirinya semakin ringkih, kesombongannya yang menguasai dirinya selama ini, seakan mulai meluntur, berganti hasrat yang begitu membuncah untuk mengikuti kebenaran sejati yang selama ini mungkin tlah tertindas oleh kebenaran pribadi yang begitu diagung-agungkannya. Keinginannya untuk mengakhiri hidup panjangnya semakin nyata karena dirinya merasa telah capek menjalani kehidupan yang begitu keras dan monoton begitu saja. Kemudian dengan pelan dia berucap “Siapakah sebenarnya engkau ? Tapi itu bukan hal yang penting dan tidak perlu engkau jawab wahai brahmana ! Uraian yang telah engkau sampaikan tadi seolah sabda Dewata Agung yang memberikan jalan terang kepadaku. Telah terjawab apa yang selama ini menjadi pertanyaanku tentang darma dan kebenaran. Laku darma yang selama ini aku yakini kebenarannya ternyata sungguh tidak benar dan melenceng dari laku yang digariskan oleh Tuhan Yang Maha Agung. Tujuan hidup yang kupegang erat sejak dahulu, ternyata malah membawa kekisruhan baik bagi dunia ini maupun bagi diriku pribadi. Namun mungkin itu telah menjadi kodrat bagi diriku sesuai dengan permintaan dari rama Resi Jamadagni bahwa aku tidak terkalahkan oleh musuh. Sekarang aku hanya berharap kebijaksanaan Bathara Wisnu untuk segera mengantarkanku meninggalkan dunia ini. Engkau telah memulainya maka segeralah tunjukkan dimana keberadaan Bathara Wisnu !” Brahmana itu kemudian menjawab pertanyaan Ramaparasu “Aku telah mendengar sebuah kabar yang mewartakan bahwa Bathara Wisnu sudah turun ngejawantah ke arcapada dunia ini. Melalui guwa garba, kandungan, siapa tidak ada yang bisa mengatakan dengan pasti. Namun aku hanya dapat memperkirakan, mungkin juga tidak benar, bahwa ada seorang raja besar di sebuah negara besar yang bernama Maespati yang bernama Harjuna Sasrabahu, menurut kabar yang aku dengar beliau sanggup ber-triwikrama dan pada saat itulah merupakan gambaran dari Bathara Wisnu yang sebenarnya. Kalau memang demikian adanya, maka titisan Bathara Wisnu yang menjelma dalam diri Harjuna Sasrabahu itulah yang akan menjadi sarana kematianmu wahai Ramaparasu !” Maka merekah-lah tekad dan semangat Sang Ramaparasu untuk mencari negri Maespati, mencari Prabu Harjuna Sasrabahu yang diharapkan akan memberi jalan kepada tujuan yang hendak dicapainya. Diraihnya busur panah dan kapak raksasa senjata andalannya dan dengan langkah yang mantab segera Sang Ramaparasu mulai pencariannya. <<< ooo >>> Diceritakan negri Maespati tengah mengalami bencana yang disebabkan oleh seorang raja raksasa bernama Rahwanaraja. Raja Alengkadiraja ini menyerbu dengan ganasnya negri Maespati. Rakyat yang tidak berdosa pabila bertemu dengan pasukan raksasa Alengka, langsung dibunuh ditumpas habis tak bersisa. Sungguh sepak terjang mereka tiada berperikemanusiaan. Sangat beringas hanya karena satu tujuan dalam upaya mengambil Dewi Citrawati, permaisuri Prabu Harjunasasrabahu, menjadi istrinya. Meskipun sudah tahu bahwa Dewi Citrawati telah besuami, namun Sang Rahwanaraja tidak peduli. Semua kemauannya harus terpenuhi. Jangankan hanya seorang titah, bahkan para dewata di kahyangan-pun pernah dilabraknya. Kesombongan semakin menjadi karena memiliki kedigdayaan yang tak ada lawannya. (baca kisah Lokapala) Hal ini tentu tidak didiamkan begitu saja oleh raja Maespati, Sang Harjuna Sasrabahu. Maka di utuslah sang patih Suwanda (Sumantri) untuk menghadapi Rahwanaraja dan pasukannya. Namun sungguh tragis, Patih Suwanda yang terkenal dengan kedigdayaannya, ternyata gagal menunuaikan tugasnya. Patih Suwanda tak mampu menghadapi kesaktian Rahwana sehingga akhirnya tewas mengenaskan. 

Ramayana [18]

Mendengar tewasnya Patih Suwanda yang begitu dibanggakan dan dicintainya, Sang Prabu Harjuna Sasrabahu terluka hatinya. Maka segera dia turun tangan sendiri untuk menghadapi Sang Angkara Murka raja Ngalengkadiraja. Kemarahannya terhadap perbuatan Rahwanaraja yang bertindak semaunya sendiri tanpa peduli tata susila dan tanpa berperikemanusiaan, membuatnya triwikrama. Badannya meraksasa seperti gunung menjulang tinggi. Triwikramalah Sang Prabu ! Dengan mudahnya dikejar dan ditangkapnya Raja Alengka, kemudian diikat dan diseret di belakang kereta. Prabu Dasamuka hanya mampu merintih dan meraung kesakitan sepanjang jalan. Nun di tempat terpisah, Kalamarica, abdi kinasih Rahwana raja, melihat gustinya tertangkap, seketika muncul rekadaya untuk membalas tindakan Raja Maespati itu terhadap gustinya. Kalamarica adalah seorang raksasa yang sakti dan pintar, namun kepintarannya itu sering dimanfaatkan untuk merekayasa perbuatan yang curang dan penuh tipudaya. Maka dengan kesaktiannya, segera dia menuju Taman Sriwedari dengan menyamar sebagai seorang prajurit Maespati yang terluka. Diberitakannya kepada para abdi emban yang melayani Dewi Citrawati, bahwa Sang Prabu Harjuna Sasrabahu telah tewas di pertempuran dan juga sebentar lagi Sang Rahwana Raja akan segera menuju taman untuk mengambil dengan paksa Sang Dewi untuk dijadikan tawanan dan sekaligus akan diperistrinya. Maka mengetahui kabar yang sangat penting itu, kemudian Kalamarica dihadapkan kepada Dewi Citrawati. Dengan badan yang penuh dengan darah karna terluka dan seolah menahan sakit sehingga suaranya terputus-putus, mengadulah Kalamarica “Duh Kusuma Dewi sesembahan hamba ! Jagad telah menyaksikan bagaimana nasibnya orang yang menjadi tawanan. Perlakuan apa yang akan diterima terhadap paduka Kusuma Dewi, pabila nanti Prabu Rahwana telah berada di dalam Taman Sriwedari ini. Paduka akan menerima perlakuan yang sangat buruk, seperti halnya putri taklukan. Tak terbayangkan, nista dan nestapa yang akan paduka alami” Dan setelah kata terakhir itu terucap, prajurit itu roboh meregang seolah nyawa hendak melayang. Melihat pemandangan seperti itu, Sang Dewi terkecoh dan menganggapnya sebagai suatu kebenaran. Kata-kata prajurit tadi begitu menakutkan dirinya. Dibayangkan tidak lama lagi Rahwana Raja kan datang ke taman dan kemudian apa yang dikatakan prajurit itu, bakal terjadi. Tlah di dengarnya bagaimana kejamnya perilaku Raja Ngalengka terhadap siapa saja yang melawannya. Dia tidak ingin tubuh dan jiwanya kelak menderita di bawah kekuasaan Rahwana. Mimpi pun tidak ! Maka tanpa berfikir panjang, di terima mentah-mentah “drama” yang dilakukan oleh Kalamarica, si prajurit terluka. Dan akhirnya tlah bulatlah tekadnya, segera diambil patrem, keris kecil, tanpa ragu dihunus dan ditusukkan ke dada. Robohlah Sang Dewi bermandikan darah diiringi nyawa melayang keluar dari raganya. Seolah seperti diperintah, puluhan embanpun melakukan hal serupa yang dilakukan gustinya. Geger Taman Sriwedari ! Dan di antara tubuh-tubuh yang bergelimpangan itu, tiba-tiba Kalamarica bangun dan tertawa terbahak-bahak. Puas rasa hatinya menyaksikan hasil kerjanya. Segera dia enyah dari taman untuk kembali menemui gustinya Rahwana raja. <<< ooo >>> Sungguh mengenaskan keadaan Sang Rahwana. Dirinya tak mampu berbuat apa-apa seolah kesaktian yang disombongkan tanpa tanding selama ini, kali ini hilang musnah di hadapan Sang Harjuna Sasrabahu. Dan dengan tak tahu malu, ditunjukan jiwa kerdilnya dengan melolong meminta untuk segera dilepaskan dari siksa dan deritanya. Lolongannya sungguh menyayat hati karena memang tubuhnya sakit tiada terperi. Jerit kesakitannya keras membahana bak memecahkan jagad saja. Keadaan yang mengenaskan Rahwana Raja serta ratapannya tak luput dari pendengaran Resi Pulasta. Dengan segera kemudian Resi Pulasta, datang ke hadapan Sang Harjuna Sasrabahu untuk memintakan maaf atas polah cucunya yang berani menyerbu dan merusak negri Maespati. Raja Maespati memang memiliki budi yang luhur, sehingga dengan jiwa yang tulus kemudian dimaafkanlah Rahwana Raja dan dilepaskannya raja Alengka itu dengan perjanjian agar Rahwana Raja bertobat dan tidak akan mengulangi perbuatan yang merusak jagat dengan kesombongan dan kesaktiannya. Kemudian dengan kesedihan yang mendalam, di bakarlah jasad Patihnya Suwanda yang terbunuh saat melawan Dasamuka. Patih yang menjadi tangan kanannya itu telah menjalani kesempurnaan hidup untuk segera kembali ke tempat asalnya. Bagaimanapun, telah diikhlaskannya kematiannya sebagai suatu kehendak Sang Hyang Maha Agung. Namun cobaan dan derita seolah berentetan menimpa Sang Harjuna Sasrabahu. Saat hendak menemui istrinya ke Taman Sriwedari, disaksikan tubuh bergelimpangan para emban pengasuh yang telah menjadi mayat. Dan di antara tubuh-tubuh mati itu, terlihat tubuh kekasih hatinya Dewi Citrawati yang bernasib sama. Sungguh terkejut bukan main Sang Narendra ! Sungguh seolah tak percaya atas apa yang disaksikannya itu ! Sungguh jantungnya bak ditusuk ribuan tombak tajam menyaksikan itu semua ! Diam seribu bahasa Sang Nata, tak ada satu katapun terucap. Tak terasa air mata kesedihan menetes di pipinya. Seolah dunia telah membelah dan menelan raganya, seakan langit tlah runtuh menimpa dirinya. Gelap semua gelap. Kelam hanya kelam yang ada dalam jiwanya. Hampa … dan hanya hampa yang kini dirasakan. Betapa berat cobaan hidup yang dialami kini. Bertubi-tubi datangnya … dan sangat berat ! Beberapa saat lamanya Sang Prabu berdiri dalam diam laksana patung. Fisiknya berdiri diam namun jiwanya begitu bergolak tak terkendali. Akhirnya dengan tekad yang tlah tertancap, kemudian Sang Prabu menukar busana keprabon dan meninggalkan kerajaan tanpa diketahui oleh seorangpun, termasuk juga patih Surata, patih jero (dalam kraton). Sumedhot rasa jroning nala, suku mecak mbaka sajangkah tilar puraya. Surem jagadira sang Prabu kaya dene kalimput pedhut angendanu. Rengganing Purayagung kang asri wus sesawang bosah basih, datan ana sajuga wewangunan kang maksih wutuh. Negara kang kerta lan raharja, bebasan tan ana tabete, tumpes keles kaya ketaman sindhung riwut bayu bajra. Lumaksana ing tilas papan paprangan kang wus sepi sepa, kanthi sarira kang kaya linolosan otot bebayune. Kang ana ing sasawanganiara, amung katingal para prajurit kang pating blasah kaya babatan pacing. Ana kang maksih nandang katriwandhan sesambat angaruara. Jroning nala Sang Prabu tetanya, kanggo sapa sejatine para prajurit kang bebela pati? Saya rikat lampahe Prabu Harjuna Sasra kaya sinengka. Ing ngarsanira wus katon anjegreg wukir kang malela. Tuwuh krenteg lamun ing gunung kae, kena kinarya pangungsen tamba masguling nala. Tinilar sesawangan edi pasawahan kang reja, kang sakala ilang musna gumanti swasana nggegirisi saka kehing bebathang sabab saka paprangan kang nembe lerem. Jroning dalu, lungkrahing raga kasendhekake ing kakayon. Netra katutup, sandeyane, rasa arsa linereman. Nanging rasa kumrangsang saka gempaling driya, tan widagda ngampah duhkita. Malumpat njegreg, muwus sora Sang Sri Harjuna Sasrabahu. “Heh srenggala, sardula, naga, raseksa, utawa kabeh bangsaning eblis siluman kang mbaureksa ing kene! Tilingana, rungokna pamuwusku! Ampyaken kaya wong njala, krubuten aku kaya menjangan mati! Ora ana gunane aku ndedawa urip. Karana amung siksa kang sinandhangan! Manawa jeneng ingsun kang luput, jlentrehana apa sedya kang mesthi ingsun gayuh? Garwaningsun Citrawati wus nemahi tiwas saka kejeming prang. Patih kang tak kacaket wus kasambut ing rana. Negaraku remuk rempu karana drenging paprangan. Perang . . . . . karana ngapa mesti kaleksanan ngrabasa Maespati”. Kaya dene sato galak kang kapikut, nggero jroning nala, njola kaya patrape singa barong. Tan ana sajuga tetali kang kuwawa medhot hardaning rasa. Wekasan sang Prabu nglumpruk datanpa daya lan pasrah marang kang murbeng dumadi.

Ramayana [19]

Terbujur lemas Sang Prabu, rebah di atas tanah lembab hutan. Mulai dirasakan betapa lemah fisiknya, lebih-lebih lagi jiwanya tlah carut marut seolah tiada wujudnya lagi. Lelah fisik dan jiwa menanggung beban berat dan derita yang disandangnya membuat dirinya seakan tanpa daya sama sekali. Hingga akhirnya tanpa disadarinya, tertidur Sang Harjuna Sasrabahu di tengah hutan itu berkasur daun-daun kering dan berselimut gelap malam. Lelah fisik dan jiwanya membuat tidurnya bak orang mati saja. Sungguh kasihan sekali keadaan Sang Prabu. Beberapa hari yang lalu, dirinya masih menjadi seorang raja dari sebuah negara besar bernama Maespati. Dirinya masih menduduki singgasana yang megah di dampingi oleh dua patihnya yang sangat dipercayainya, Patih Suwanda dan Patih Surata. Juga betapa bahagianya dia memiliki permaisuri Dewi Citrawati yang begitu jelita lahir dan batinnya. Sepertinya bahagia dan kesenanganlah yang selalu melingkupi sepanjang hari-harinya. Sepertinya tiada pernah susah dan nestapa tiada pernah mengunjunginya. Namun itulah dunia ! Itulah ke-fana-an ! Segalanya berubah hanya dalam hitungan hari. Senang berubah menjadi sedih, bahagia berganti menjadi nestapa. Bak cakra manggilingan yang terus berputar, kini posisinya berada di bawah ! Dirinya menjadi pecundang. Segala yang dimiliki, dicintai dan dikasihi, hilang musnah tiada bersisa. Benarkah selama ini dirinya telah beroleh kebahagiaan sejati ? Kesenangan-kesenangan dalam bentuk apapun di dunia ini pasti tidak abadi, tidak langgeng dan bersifat fana. Kesenangan ibarat gelembung-gelembung air sabun yang terbang mengangkasa dan tidak lama kemudian pecah, hilang dan musnah begitu saja. Kesenangan adalah output dari nafsu yang kemudian menimbulkan ikatan-ikatan dengan sumber kesenangan itu. Pabila suatu saat kesenangan itu dipisahkan dan direnggut dari kita, seolah yang kita rasakan begitu kehilangan karena ikatan-ikatan itu terlepas dan memudar. Dan perasaan duka kemudian menghinggapi diri. Hidup ini penuh dengan kedukaan yang kerap muncul akibat dari kekecewaan, rasa iba diri, kemarahan, kebencian, iri hati, permusuhan dan dendam membara. Pada saat itu kemudian kita merindukan apa yang dinamakan sebagai BAHAGIA. Namun sayang sungguh sayang, kita sering salah mengenalinya bahwa kesenangan sama halnya dengan kebahagiaan. Bahwa mencari kesenangan itu sama halnya dengan mencari kebahagiaan. Kesenangan, tidak lain hanyalah saudara kembar dari kesusahan belaka. Keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain, ibarat sebuah keping mata uang dengan gambar di depan dan di belakang, berbeda gambar dan citranya, namun masih dalam satu tempat yang sama. Pabila kita mencoba menutupi kedukaan dengan kesenangan, maka tentu saja kemudian akan menuai hal yang sama. Kan kembali terulang, karna niscaya kemudian kesenangan bakal berubah menjadi kesusahan lagi. Kesusahan ditutupi dengan kesenangan, kesusahan dihilangkan dengan kesenangan, itulah yang kerap kita lakukan. Pekerjaan sia-sia dilakukan sepanjang hidup … hanya karena ketidaktahuan semata. Hal yang dicari sebenarnya adalah BAHAGIA. Bahagia sungguh sangat jauh berbeda dengan kesenangan. Bahagia tidak ada kebalikannya. Kebahagiaan jauh di atas jangkauan suka dan duka, susah senang. Bahagia adalah milik dari Yang Menciptakannya. Bahagia adalah pabila kita selalu berdekatan dan bercinta denganNYA. Bahagia adalah pabila kita mengenalNYA dan kemudian menyerahkan segala urusan kepadaNYA. <<< ooo >>> Dalam lelap tidur Sang Harjuna Sasrabahu, Sang Nata bermimpi dikunjungi oleh Sang Kanekaputra. Dengan lembut dan penuh kasih dia bertutur “Ngger cucuku janganlah jiwamu terus dalam kenelangsaan. Semua yang telah engkau terima, sejatinya juga lumrah disandang oleh semua makhluk. Semua yang engkau katakan tentang kedukaan dan ketidakadilan, sebenarnyalah semua makhluk pasti pernah mengalaminya saat dirinya mengalami kedukaan dan merasa diperlakukan tidak adil. Keadilan bagi siapa ? Keadilan oleh Siapa ? Luaskan hatimu untuk menerima itu semua dengan penalaran yang terang, sebab pabila pikiran dan hatimu dipenuhi oleh rasa duka dan nestapa yang seolah menghancurkan hidupmu, maka akan buntulah nalar dan hatimu. Dirimu bertanya mengapa hidup tak berpihak padamu. Dalam pemikiranmu, selama ini engkau telah melakukan kebajikan yang tiada putusnya dan seolah tiada pernah alpa dan kilaf engkau lakukan. Namun apakah memang benar demikian ? Maka carilah dengan hati dan jiwa jernihmu untuk menemukan keadilan dan kebahagiaan sejati yang engkau dambakan. Ngger cucuku, engkau tengah dikungkung dan dikangkangi oleh angan-anagan, budi pekerti dan panca indramu !” Dalam mimpi itu, Sang Prabu langsung bangkit tersadarkan. Dia merasakan seolah dirinya berada di dalam alam maya. Didepannya masih berdiri Sang Kanekaputra, saat dipalingkan mukanya ke kiri, Sang Prabu sangat terkejut karena dilihatnya ada sosk berwujud raksasa yang tengah tertidur dengan berselimut daun-daun kering dan berbantal akar-akar pohon. “Sinten punika Pukulun, wujud diyu ingkang tilem kepati akekemul sarah?“ bertanya Sang Prabu. “Ya sira iku! Iku wujuding ragamu! “ Sang Kanekaputra memberi penjelasan. “Sanes Pukulun, kula menika awujud satriya, dede wujud rasaksa bekasakan! “ Bantah Sang Prabu. “Miturut panganggepmu pancene mangkana. Nanging apa kang sira dulu saiki, iku sawijining bab kang nyata, ngger wayah ulun! Raga kang gumletak ing siti, kuwi nyata wewujudanmu!” “Adhuh Pukulun, baya punapa ingkang sinandang ing titah paduka? Kawula keparanga miterang awit saking cubluk kuthunging manah, amargi kasepen ing tepa palupi” semakin perih rasa di hatinya Prabu Harjuna Sasrabahu yang menyaksikan wujud sejati raganya. “Matura marang jeneng ulun, sepira cacahing rampadan kang wus sira dhahar, saka wiwit leking jabang bayi nganti tekan seprene? Coba matura, pirang gantang banyu kang wus sira inum? Pira dawane panganggon kang wus sira agem, saka sira wujud jabang bayi nganti saprene. Pitakonku, mesti bisa kita jawab kanti gampang”. Mendengar perkataan Hyang Kaneka, Prabu Harjuna Sasra seketika berdiam diri mencoba mencerna maksud dari pertanyaan itu. Kalaupun bakal dijawab tentu dia tidak akan mampu untuk menjawab secara tepat untuk menghitung apa yang selama ini telah dinikmatinya. Kemudian dengan penuh rasa malu Sang Harjuna Sasra berkata “Duh pukulun, kula mboten saged ngenget, temtumipun kathah cacahipun tanpa wilangan. Yen ta kagunggunga, kathahipun saged angungkuli cacah wewangunan lumbung ingkang wonten ing praja Maespati. Yen ta ginuggung kathahing toya ingkang sampun inginum, sadaya bengawan ing Nagari Maespati temtu mboten saged ngembari. Yen ta ginunggung kathaing sinjang ingkang sampun kula angge, wiyaripun sampun kuwawa angemuli tlatah Nagari Maespati. Ooh pukulun, punapa wonten gandeng cenengipun kaliyan ingkang kula tindakaken?” “Ingsun wus ngandika, yenta sira nggugat lumantar wenganing atimu, kuwi gugat kang amung lumantar angen-angening pancaindriya. Mestine sira ngarep arep lamun kabecikan kang winangun saka angen angen kuwi bakal mikolehi ganjaran. Apa kang sira arep-arep, tibake nora mikolehi, malah sira rumangsa siniya siya. Saiki pangangen-angenmu nggugat!. “Lajeng punapa ingkang kedah kula lampahi dhuh Pukulun?” “Rabuken rasa pangestimu marang panembah jati. Iku dadi tanda-tanda yen sira lumaku tumuju marang temuning kabagjan!” Direnungkan apa yang telah didengarnya tadi. Sungguh meresap dalam hati apa yang telah disabdakan oleh Hyang Naradda. Dengan sangat berhati-hati kemudian Sri Harjuna Sasra meminta pencerahan karena masih ada beberapa bab yang mengganjal di hatinya. “Cahyaning kabagjan, kenging punapa paduka paring cecoban aceceda dumateng titah paduka Pukulun?” “Babar pisan ulun ora nyeceda marang jeneng para, ulun tumemen! Mara tilingana, urip iki mapan ing rasa lan jumeneng ing singangsana atimu. Yen ta sira nandang sungkawa, urip nggepok rasa-pangrasamu. Kosok baline, yenta sira ngrasa gumbira, rasa-pangrasamu saya ngadohi. Mula nora luput ujaring sarjana sujaneng budi, lamun Jawata Agung tansah ginggang kalawan pawongan kang wuru jroning kamulyan. Jeneng sira saiki lagi nandhang susah, lan sira nyatanye nyedak lan Jawata Agung, iya apa iya ngger?” “Inggih leres pangandika paduka pukulun. Nanging ing pundi dunung sejatining kabahagyan? Babar pisan titah paduka mboten rumaos begja”.

Ramayana [20]

“Orang yang hatinya tlah teguh memegang prinsip panembah jati, pastinya akan berusaha untuk mendekatkan diri kepada yang disembahnya setiap saat. Siapapun yang mendekatkan diri kepadaNYA maka niscaya bakal didekati oleh NYA. Engkau melangkah setapak, Sesembahanmu melangkah mendekatimu lima langkah. Engkau merapat lima tindak, Sesembahanmu bakal melakukannya jauh lebih banyak lagi. Aku jauh Engkau jauh, aku dekat Engkau dekat. Itulah yang disebut kebahagiaan” “Terus apa yang disebut cahaya tadi ?” “Cahya itu yang disebut sebagai pepadhang (penerang, petunjuk) yang sejati. Kelak engkau akan mengerti hal itu” “Apakah Sesembahan hamba berkenan bertahta di hati titah paduka, Pukulun?” “Lebih dari itu ngger, pabila Sesembahanmu berkenan, engkau malah akan memperoleh lebih dari itu. Engkau mungkin malah memperoleh apa yang disebut sebagai wahyu” “Wahyu ? Apa lagi yang disebut wahyu itu ? Sampai dengan saat ini, tidak ada terbersit keinginan ataupun hasrat untuk memperoleh wahyu kemulyaan jagat. Semua yang aku cintai telah meninggalkan diriku” “Wahyu, ada kalanya berwujud pitutur sejati. Pitutur sejati itulah yang akan menjadi sarana dirimu kembali kepada asal muasalmu. Disana, kelak engkau bakal menemukan kemuliaan sejati yang bernama nirwana. Carilah Wisnu ! Ketahuilah, Wisnu sekarang telah lepas dari ragamu. Wisnu berwujud cahya kehidupan yang manunggal bersama Hyang Tunggal. Selama ini engkau memiliki senjata sakti yang tanpa tanding, bahkan engkau tidak mempan terhadap senjata musuh apapun. Namun pabila ada senjata yang mampu menembus dadamu, maka orang yang memiliki senjata itu sesungguhnyalah wujud sejatinya Wisnu !” Setelah memberikan penjelasan terakhir tadi, seketika hilang musnah wujud Batara Narada di dalam mimpinya. Dan seketika itu pula Sang Narendra terbangun dari tidurnya. Termenung sejenak Sang Harjuna Sasrabahu. Kata-kata Sang Kanekaputra satupun tiada dilupakannya, satupun tiada yang tercecer dari ingatannya. Semua begitu jelas, dan telah jelas pula apa yang harus dilakukannya segera ! Diceritakan, perjalanan Ramaparasu telah sampailan di negri Maespati. Namun betapa kecewanya dia, takala mendengar kabar bahwa Sang Prabu Harjuna Sasrabahu ternyata tidak ada di kerajaan. Kabar yang beredar mengatakan bahwa setelah terjadinya serbuan Dasamuka ke Maespati, Sang Prabu telah meninggalkan istana tanpa seorangpun yang tahu kemana perginya. Berseliweran kabar yang didengarnya tentang maksud kepergian Sang Narendra yang tanpa seorangpun tahu itu. Sebagian mengatakan bahwa kepergiannya adalah untuk menyerang balik Alengka Diraja seorang diri untuk misi balas dendam. Ada juga yang mengabarkan bahwa kepergian rajanya adalah dalam rangka untuk mencari seorang putri, kembangnya jagat, pengganti istrinya yang telah tewas oleh Dasamuka. Sedangkan informasi yang diterimanya dari sebagian para pandita yang ditemuinya, mengabarkan bahwa Sang Prabu sudah tak berhasrat lagi untuk menikmati manis dan indahnya dunia lagi. Memang, dalam kehidupan di dunia ini, tindakan apapun yang dilakukan oleh seseorang, bakal mengundang orang lain untuk ikut turut di dalamnya walaupun hanya sekedar berkomentar, baik hal yang positif maupun yang negatif, baik paham terhadap permasalahan maupun tidak mengerti sama sekali, baik kenal orang yang dikomentari maupun tidak pernah kenal sama sekali. Bukankah pernah ada cerita yang menggambarkan itu semua, demikian : Suatu hari seorang bapak membeli seekor keledai bersama anaknya di sebuah pasar yang cukup jauh dari rumahnya. Setelah berada di jalan menuju pulang, sang bapak menyuruh anaknya untuk menaiki keledai itu dan sang bapak menuntun disampingnya. Pada suatu tempat di pinggir jalan dimana berkumpul beberapa orang yang sedang duduk-duduk bersantai, lewatlah bapak dan anak beserta keledainya. Pada saat itulah, terdengar bisik-bisik di antara mereka : “Tuh lihat ! Kalau pengin melihat anak yang durhaka dan tak tahu diri. Masak sementara bapaknya kecapekan dan kepanasan berjalan menuntun keledai, eeee ……. dianya malah duduk enak-enakan di atas keledai. Dasar anak kurang ajar !” Mendengar gunjingan itu, maka kemudian sang bapak meminta sang anak segera turun dan kemudian menggantikan naik ke keledai. Berjalanlah mereka kembali, hingga di pinggir jalan yang lain, kembali mereka melewati sekumpulan ibu-ibu yang sedang ngobrol di sebuah lincak di pinggir jalan. Kembali terdengar suara bisik-bisik diantara mereka : “Lihat ibu-ibu ! Orang mana dia itu ya. Aduh … sungguh seorang ayah yang kejam dan tak menyayangi anak. Masak anaknya disuruh jalan di tengah terik matahari, keringat sampai membasahi muka dan badannya, eee … bapaknya malah duduk santai di atas keledai. Huh … sungguh seorang ayah yang kejam. Untung suamiku tidak begitu sifatnya” Serba salah bapak dan anak itu ! Maka kemudian, sang bapak menyuruh anaknya untuk naik kembali ke keledai sehingga mereka berdua menunggangi keledai dan melanjutkan perjalanan. Tidak lama kemudian mereka memasuki sebuah desa dan kembali melewati sekelompok warga desa yang sedang gotong royong membersihkan got. Seraya memperhatikan yang tengah lewat, diantara mereka terdengar celetukan yang cukup lantang : “Hoi …. Pak ! Apakah sampeyan dan anak sampeyan ndak pernah di ajar budi pekerti di rumah tho ! Peyan ndak punya rasa perikemanusiaan apa ! Masak keledai yang kecil begitu, kalian naikin berdua. Ndak punya perasaan peyan, Pak !” Semakin bingung bapak dan anak itu mendengar komentar-komentar tentang dirinya. Akhirnya sang Bapak memutuskan untuk keduanya turun dan kemudian menuntun keledai untuk melanjutkan perjalanan pulang. Ketika sudah dekat rumah, oleh tetangganya kemudian disapa dan sekaligus dihadiahi komentar : “Pak Fulan kenapa keledainya dituntun Pak. Bukankah Bapak membeli keledai untuk ditunggangi ?” Itulah manusia ! <<< ooo >>> Ramaparasu tidak mempedulikan kabar yang beredar dan berkembang. Disambangi setiap pelosok negri Maespati untuk mencari keberadaan Sang Harjuna Sasrabahu yang dicarinya. Setelah sekian lama mencari dan tiada hasil juga, meskipun dengan rasa kecewa akhirnya diputuskan untuk menghentikan usaha pencarian dan pulang ke bekas pertapaan ayahnya dulu. Dalam hatinya masih berharap untuk kelak mendengar kabar tentang keberadaan Sang Harjuna Sasrabahu. Dia yakin bahwa suatu saat pasti akan dapat bertemu dengan Sang Prabu. Namun di tengah jalan, keinginannya semula untuk menuju ke pertapaan ayahnya dibatalkannya. Dia berfikir bahwa dengan menetap di pertapaan ayahnya, walaupun hanya sementara, malah berakibat tidak baik. Niscaya bakal kembali muncul bayangan-bayangan masa lalu yang kelam, tentang terbunuhnya sang ayah secara kejam dan kisah duka ibu serta saudara-saudaranya. Maka akhirnya melangkahlah Sang Ramaparasu tak tentu arah dan tujuan hanya mengikuti kata hati, mengikuti langkah kaki kemanapun arahnya. Suatu saat di tengah perjalanan, dia berhenti sejenak setelah tiga hari lamanya berjalan tiada berhenti. Dalam benaknya kemudian terpikir : “Hingga detik inipun, aku belum pernah sama sekali sua dengan wujud Prabu Harjuna Sasrabahu. Bagaimana aku bisa mengetahui bila tidak mengenalnya. Apalagi perginya yang tidak di ketahui oleh orang lain, mengindikasikan bahwa dia tidak ingin diketahui keberadaannya oleh siapapun …” Termangu dia sejenak. Betapa susahnya mengikuti jalan lempang yang tlah ditunjukan melalui mimpinya. Apakah aku harus menyerah ? Tidak ! Tidak akan pernah Ramaparasu menyerah sepanjang hayatnya ! begitu kata hati Ramaparasu yang tengah berusaha untuk membangkitkan semangatnya yang memulai memudar. Betapa tlah jenuh rasanya dia menjalani kehidupan ini. Ingin segera diakhirnya. Namun dia yakin bahwa itu semua adalah fragmen kehidupan yang memang harus di jalaninya. Dibutuhkan keyakinan diri dan kemantaban tekad untuk terus mencari dan mencari, slalu mencari. Lama sekali Ramaparasu diam tanpa bergerak laksana tugu dipinggir jalan yang berdiri kokoh, tegar tak goyah diterpa jaman. Diam fisiknya, bergejolak hatinya. Rasanya tlah lelah dirinya melihat dunia, tlah rindu dirinya kepada kedamaian abadi. Lelah Ramaparasu ! Namun kewaspadaan Ramaparasu tetap terjaga, tiba-tiba dari belakang berdirinya terdengar suara dedaunan kering yang terinjak. Segera Ramaparasu melayang mendekati arah suara itu dan ingin tahu apa atau siapa yang berani mendekat dan mengganggu dirinya. 

Ramayana [21]

Dilihatnya ada bekas ranting yang patah seperti terkena anak panah, dan juga tampak bekas tapak kaki yang menunjukan pernah ada orang yang lewat di situ. Sekian lama pengalamannya berkelana, menajamkan instingnya bahwa sebentar lagi akan ditemuinya seorang satria. Dirunutnya bekas tapak yang meskipun mulai samar namun masih terlihat oleh mata tajam Ramaparasu. Dan … akhirnya Sang Ramaparasu melihat sosok seseorang yang sedang menarik busur entah apa yang hendak dipanahnya. Orang itu menghadap berlawanan arah dengannya. Diperhatikan sejenak sosok itu. Sangat terlihat kalau ahli dalam hal olah memanah. Berpakaian sangat sederhana dengan badan yang tegap dan sikap yang tenang, perasaan Ramaparasu mengatakan bahwa orang itu bukanlah penduduk biasa. Boleh jadi dia termasuk golongan satria. Seketika … Ramaparasu melompat menghadang di depan orang itu dengan menampakan wajah bengisnya. Terkaget orang itu yang tiada lain memang Prabu Harjuna Sasrabahu. Sang Prabu yang telah meninggalkan kerajaan beberapa bulan lamanya tanpa arah jelas dan jiwa yang kosong. Keadaan kedua orang itu tiada berbeda. Hati mereka tengah galau, jiwa lagi goyah, pikiran pekat melanda. Sebenarnyalah tujuan mereka tiada beda kini. Tujuan mereka adalah mencari manusia titisan Bathara Wisnu yang bakal mengakhiri penderitaan yang dialaminya. Dua orang yang satu harap, kini saling berhadapan ! <<< ooo >>> Diceritakan, tersenyum dalam hati Sang Prabu takala langkahnya dihadang oleh seseorang yang memiliki perawakan yang seba sembada. Dalam hatinya tidak samar lagi bahwa telah bertemu dengan apa yang menjadi harapannya. “Heh sapa sira kang wani ngadhang lakuku?! Iblis, menungsa apa wewujudaning Dewa?” demikian Sang Prabu berkata juga bertanya Sang Rama Parasu tidak segera menjawab, hanya bibirnya tersenyum mengikuti senyum dan gembira suasana hatinya. Dan kini keduanya saling memandang dengan tersenyum di hutan di pagi hari itu yang mentaripun tengah menampakan senyumnya. “Mesthine sira wujuding jalma manungsa, katitik sira ora ilang kenedhepake!” akhirnya Rama Parasu menjawab. “Mesthine sira uga sabangsaning manungsa, katitik ana wewayanganmu kang cumithak ing bantala!” Sang Prabu balik menjawab tak mau kalah. “ Bagus! Nyata lamun kita darbe pamawas kang ora geseh!” “Ora luput pamuwusmu!” “Yoh, kita rerembugan kaya dene patraping satriya, aja kaya patrape brahmana kang andum wewarah. Tumuli sajarwaa, sapa sejatine jeneng sira?” dengan suara tegas dan menggelegar Rama Bargawa berkata. “Sapa jenengmu heh jalma wanan!? Kalamun tak umpamane ingsun iki pawongan kang mardhika, iki papan dunungku. Mula sira kang luwih dhisik sajarwa sapa aranmu, kaya kalumrah patrape tetamu teka ing papan panggonanku!” begitupun Sang Harjuna Sasrabahu membalasnya dengan mantab. “Iya, yen kowe lumuh ingasorake, mara tilingana. Asalku saka pertapan satengahing wana gung. Ingsun putra Resi Jamadagni kang wuragil. Jenengku Rama Parasu. Apa sira durung nate wanuh marang kang awujud Rama Parasu ya Rama Bargawa?” Terkejut Prabu Harjuna Sasrabahu mendengar jawaban itu. Tak pernah terbayangkan dalam hatinya untuk bertemu bahkan berhadap-hadapan langsung dengan Rama Parasu seperti saat ini. Nama Rama Parasu sudah sangat terkenal di seluruh dunia, sepak terjangnya sudah didengarnya kala dirinya masih belia. Seketika Prabu Harjuna Sasrabahu meminta Sang Rama Bargawa untuk berbicara lebih jauh sambil duduk di atas akar-akar pohon yang berada di sekitar itu. Dengan lembut kemudian dia berujar. “Ooh . . . apuranen jeneng ingsun! Tan ana ngira dene jengandika Sang Satriya Pinandhita kang wus kawentar ing jagat. Nama jengandika wus kasusra dadi sawijining dedongengan kang tuhu anggegirisi, keprungu wiwit saka mangsakala aku isih awujud bocah. Ora ngira lamun Dewa kepareng darbe kersa nepungake lawan jengandika Sang Rama Bargawa kang kasusra ing salumahing bhumi sakureping langit!” “Yen saiki wus ngerti sapa sejatine aku, saiki sajarwaa sapa sejatine sira iku?” Maksih kanti ati kang kabranang, mangkana pangandikane Rama Bargawa. “Jengandika bakal kuciwa lamun mengerteni sapa sejatine ingsun. Aku Harjuna Sasrabahu tilas raja ing Maespati” Dan kini gantian yang terkejut Sang Rama Bargawa. Terkejut dan juga gembira hati karena tlah menemukan apa yang dicarinya selama ini. Hatinya bungah, jiwanya rasanya mengangkasa, bahagia tiada terkira. Ciptanya tlah membayangkan bakal terlaksana semua hasrat dan kehendak hati yang tlah lama mendekam. Namun ternyata masih ada ganjalan dalam hati, masih tersembul kecurigaan akan kebenaran dari pengakuan orang yang kini tengan berhadapan dengannya. Iya kalau benar ! Kalau tidak ? Alangkah kecewa dirinya. Dan dengan suara yang masih membahana kemudian dia berucap. “Heh pawongan kang ngaku Prabu Harjuna Sasrabahu raja kang gung binathara. Raja kang wus kasusra dadi panjalmaning Bathara Wisnu. Aja sira nindakake pakarti cidra. Aku lumuh lamun ingapusan, sanajan ta dening anaking dewa Yama aku ora rila!!”. “Aku sajarwa apa anane. Lamun andika nate midhanget ceciri ing saranduning awakku, mesthi aku kadunungan. Lamun andika sumurup marang apa kang dadi piyandel kang awujud senjata Cakra, aku bakal anudhuhake. Ingsun uga lebda angudhar carita sakabehing bab kang ana gegayutane marang prajaku, kawulaku, garwa prameswariku uga pepatihku kang sudibya ing pupuh. Nanging ana bab kang ora sarju marang pangandikane jengandika. Dene jengandika anyebut menawa ingsun kasebut panjalmaning Bathara Wisnu!?” “Ingsun nate krungu pawarta, manawa sira nate ngrabasa prang lumurug lumawan Raja ing Alengka, Prabu Rahwana Raja. Mara critanana supaya ingsun percaya marang sejatine sira kang ngaku Prabu Harjuna Sasrabahu!”. “Yoh Sang Satriya Pinandhita, aku bakal minangkani pamundhutmu supaya lega lan percaya marang jati dhiri jenengingsun” Ramaparasu termenung sejenak untuk berfikir pertanyaan-pertanyaan yang bakal disampaikan kepada satria di depannya. Setelah terdiam cukup lama, kemudian dia bertanya. “Sapa pepatih ing negara Maespati, lan turun sapa?” “Patihku aran Bambang Sumantri ya Patih Swanda. Dene kang ramane aran Resi Swandagni” cepat Prabu Harjuna Sasrabahu menjawab dengan tersenyum kemudian dilanjutkannya. “Resi Suwandagni kagungan putra loro cacahe. Kang waruju aran Sumantri dene kang wuragil aran Sukrasana. Wewujudan sakarone kaya dene bumi lan langit sakumpamane. Sumantri darbe wewujudan pekik kang warna sarwa sembada. Prawira sekti mandraguna lan darbe senjata dibya kang ingaran Cakrabaswara. Nanging rayine kang aran Sukrasana, wewujudane cebol kepati kang wujud praupane kaya dene raseksa. Nanging Sukrasana sinung ati kang banget mulya.” Kemudian Prabu Harjuna Sasrabahu menceritakan tentang Sumantri saat awal mula datang ke Maespati. <<<< ooo >>>>

Ramayana [22]

Resi Suwandagni adalah brahmana di pertapaan Argasekar. Ia adalah putra kedua dari Resi Wisanggeni (dalam Serat Ramayana dikenal dengan nama Ricika). Adapun saudara sekandung Suwandagni adalah Jamadagni, bapak dari Ramaparasu. Resi Wisanggeni merupakan putra bungsu dari dua bersaudara putra Bagawan Dewatama, yang berarti adalah cucu Dewanggana, dan kalau diurutkan silsilahnya maka akan menuju kepada Bathara Surya. Resi Suwandagni menikah dengan Dewi Darini, seorang hapsari keturunan bathara Sambujana, putra Sang Hyang Sambo. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra masing-masing bernama Bambang Sumantri dan Bambang Sukasarana atau Sukasrana. Sebutan Bambang adalah untuk menandakan sebagai putra seorang pendeta di gunung. Namun sungguh aneh, wujud mereka berdua bak bumi dan langit. Sumantri dikaruniai perawakan yang gagah tegap perkasa dan juga wajah yang sangat rupawan, sebaliknya Sukasrana bertubuh mungil, pendek dan memiliki banyak cacat tubuh serta berwujud raksasa (sering disebut sebagai buta bajang). Namun perbedaan itu tidak mengurangi kasih sayang yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Resi Suwandagni sangat sayang kepada putra-putranya. Pendidikannya diarahkan kepada hal-hal yang bersifat kesantikan, kesaktian dan menanamkan rasa kebaktian kepada umat. Olah keprajuritan sangat diutamakan, sehingga kedua putranya sangat mendalami jiwa keprajuritan dan kepahlawanan. Sikap Sumantri kepada adiknya sebenarnyalah sangat menyayanginya, namun adakalanya muncul rasa malu pabila diketahui oleh orang lain tentang keadaan adiknya. Dan hal sebaliknya dimiliki Sukasarana, dia begitu mencintai kakaknya. Cinta kepada kakaknya tak tercela. Begitu ikhlash dirinya menyayangi kakaknya, bahkan melebihi sayangnya kepada diri sendiri. Kakaknya adalah segalanya bagi dirinya. Hingga suatu hari, merasa dirinya sudah dewasa maka Sumantri ingin meluaskan pengalaman, mengamalkan ilmu yang dipelajari dan berniat untuk mengabdi kepada raja Maespati. Hal itu disampaikan kepada ayahnya dan memperoleh persetujuan. Mengetahui rencana kakaknya, Sukasarana pun minta persetujuan ayah dan kakaknya untuk ikut serta pergi ke Maespati. Namun tentu saja Sumantri merasa keberatan karena dianggapnya akan mengganggunya diperjalanan kelak. Dibujuknya sang adik untuk tinggal saja di pertapaan Argasekar untuk menemani ayah ibunya. Walau dengan berat hati, akhirnya Sukasarana mengiyakan namun sudah ditekadkan untuk mengikuti kakaknya secara sembunyi-sembunyi. Dalam benaknya terpikir, bagaimana hidupnya tanpa sang kakak berada di dekatnya atau minimal dapat melihat keadaan sang kakak walau secara tak berterang. Alangkah tersiksanya bila hanya bersendirian. Bagaimanakah dan siapakah raja negara Maespati itu ? Raja-raja Maespati adalah keturunan dari Batara Surya. Raja Maespati yang pertama bergelar Prabu Herriya. Kemudian digantikan oleh Prabu Kartawirya dan yang terakhir adalah Prabu Arjunawijaya atau Arjuna sasrabahu. Prabu Arjunawijaya mempunyai julukan lain sebagai Arjuna sasrabahu karena pabila saat ber-tiwikrama maka menjadikannya “abahu sewu” (sasra bermakna seribu). Kata tiwikrama asal katanya adalah “triwikrama” yang berarti “yang berlangkah tiga” yaitu Wisnu. Jadi triwikrama itu adalah sebutan bagi Batara Wisnu yang bermakna menurut kepercayaan khalayak, Batara Wisnu mampu mengelilingi jagat hanya dengan melangkahkan kakinya sebanyak tiga langkah. Dan kata triwikrama, menurut sebagian pemahaman orang diartikan sebagai : berubah wujud yang sangat menakutkan (biasanya karena amarah), berupa wujud raksasa yang sangat besar. Awalnya, Arjunawijaya, setelah menginjak masa dewasa diperintahkan oleh ayahnya untuk menikah namun tidak atau belum mau sehingga akhirnya dia malah diusir dari keraton. Arjunawijaya kemudian meninggalkan kerajaan untuk mengembara kemudian berdiam di suatu tempat untuk bertapa. Tempat itu adalah sebuah gua yang bernama Ringinputih. Tapanya Arjunawijaya begitu khusyu sehingga menimbulkan daya luar biasa disekelilingnya, setiap makhluk yang lewat di atas gua pasti akan jatuh karna tuah tapanya. Diceritakan, Prabu Dasamuka raja Alengka ingin melamar Dewi Citranglangeni, putri dari Citrawirya raja di Tunjungpura. Lamarannya diterima namun sang Dewi Citranglangeni meminta persyaratan untuk dipenuhi yaitu “mustaka pandhita sewu”. Oleh karenanya kemudian Prabu Dasamuka memerintahkan abdi terkasihnya yang bernama Yaksamuka, untuk mencari persyaratan itu. Yaksamuka kemudian menuju ke pertapaan-pertapaan dengan maksud memenggal leher para pandita untuk dikumpulkan kepalanya. Yang didatangi mula pertama kali adalah pertapaan dari Begawan Jumanten. Sewaktu niat itu hendak dilaksanakan, Yaksamuka mendapatkan perlawanan darii putra sang begawan yang bernama Bambang Kartanadi hingga jadilah perkelahian yang ramai. Cukup lama mereka bertarung hingga akhirnya Yaksamuka melarikan diri karena merasa bakal kalah. Oleh Bambang Kartanadi tidak didiamkan begitu saja, sehingga dia mengejar Yaksamuka. Larinya Yaksamuka sampai di atas gua Ringinputih, dan seperti yang terjadi pada makhluk yang lain maka diapun tiada ampun jatuh tersungkur di pintu gua. Suara berdebum tadi mengganggu tapa Arjunawijaya sehingga dia kemudian menghentikan tapanya dan segera memeriksa apa yang terjadi. Melihat seorang raksasa yang terluka dan tergeletak di muka gua, maka segera diobati dan disembuhkanlah oleh Arjunawijaya. Setelah pulih kembali seperti sedia kala, Yaksamuka kemudian berniat mengabdikan diri kepada sang tapa sebagai ungkapan rasa terima kasihnya. Tidak lama kemudian datanglah Bambang Kartanadi sampai ke hadapan Arjunawijaya. Dengan halus dan sopan dimintanya sang tapa untuk memasrahkan Yaksamuka kepada dirinya. Namun Arjunawijaya menolaknya sehingga terjadilah perkelahian antara mereka dan akhirnya Bambang Kartanadi menyerah kalah dan tunduk takluk kepada sang tapa. Walaupun dengan hati tidak sreg karena mengabdi berdua dengan musuhnya Yaksamuka, namun Bambang Kartanadi tidak berani bertindak sembarangan. Mendengar keterangan Yaksamuka tentang Dewi Citranglangeni yang hendak dilamar gustinya Dasamuka, tentang kecantikan rupanya, maka Arjunawijaya merasa tertarik dan memutuskan untuk menuju ke Tunjungpura. Kepergiannya diiringi oleh Yaksamuka dan Bambang Kartanadi. Dua orang yang pada dasarnya saling tidak cocok dan bermusuhan itu, pada suatu saat akhirnya berkelahi lagi hingga kemudian Yaksamuka dilukai kupingnya dan disuruh pulang ke Alengka. Sungguh naas nasib Yaksamuka. Saat melaporkan diri ke gustinya, bukannya dikasihani atau diberi hadiah, malah dirinya kemudian dibunuh oleh Dasamuka karena gagal melaksanakan tugasnya. Lamaran Arjunawijaya diterima dengan baik oleh Dewi Citranglangeni dan ayahnya Prabu Citrawirya. Kemudian dinikahkanlah mereka berdua di kedaton Tunjungpura. Setelah beberapa hari kemudian, Arjunawijaya dengan memboyong Dewi Citranglangeni serta didampingi oleh Bambang Kartanadi, kembali ke Maespati. Dan karena telah mengikuti permintaan ayahnya yaitu telah menikah, maka tidak lama kemudian Arjunawijaya dinobatkan menjadi raja Maespati berjuluk Prabu Arjunawijaya, ya Prabu Arjuna sasrabahu. Suatu malam disaat Sang Prabu tengah melaksanakan menyepi mengheningkan cipta seperti biasanya, datanglah dalam ciptanya Bathara Narada yang mewartakan demikian : “Anak Prabu, ketahuilah ! Dewi Citrawati putri Magada penjelmaan dari Dewi Sri sekarang ini telah beranjak dewasa. Keelokan sang dewi sungguh tiada tara. Kecantikannya telah tersebar sampai ke ujung dunia. Hingga tidak heran pabila saat ini banyak sekali raja dan satria menginginkan sang dewi menjadi pendamping hidupnya. Namun ternyata sang dewi belum menjatuhkan pilihan hatinya. Belum ada satupun dari lamaran yang berkenan di hatinya. Dan yang ditolak, menyadari bahwa memang bukan jodohnya bersanding dengan pujaan hati. Namun ada seorang raja masih belum dipastikan lamarannya, ditolak atau diterima oleh raja Magada, walaupun sebenarnya Sang Dewi Citrawati telah menolaknya. Prabu Citragada tidak segera memutuskan karena mengkhawatirkan keamanan negara bila menolaknya. Raja itu adalah raja Widarba Prabu Darmawasesa yang terkenal memang kaya raya dan memiliki wadyabala yang banyak dan sangat kuat. Prabu Citragada sedang mengulur-ulur waktu dengan meminta Raja Widarba untuk menunggu hasil lamarannya dengan mendirikan pesanggrahan di tapal batas negara. Disampaikan bahwa dirinya tengah membujuk sang dewi untuk menerima lamaran itu. Untuk sementara siasat itu memang masih aman, namun pabila terlalu lama diulur tentu pada akhirnya akan berbahaya. Prabu Citragada berharap segera datang dewa penolong ! Pikirkan dan segeralah bertindak, ngger !” Lenyap wujud Batara Narada dan tersadar Arjunawijaya dari hening ciptanya seolah terbangun dari mimpi. (Versi lain menceritakan bahwa negri Maespati tengah dilanda bencana dan pagebluk, banyak penduduk negri pagi sakit sore telah meninggal dunia, sore sakit malam telah tiada, kekeringan melanda sehingga banyak petani gagal panen dan kelaparan. Sang Prabu kemudian memperoleh petunjuk bahwa segalanya akan dapat diakhiri pabila dirinya telah memperoleh istri penjelmaan Batara Sri yang menitis di diri Dewi Citrawati) Ramayana [23] Hingga pada suatu hari, sampailah Bambang Sumantri ke negri Maespati. Tanpa menunda waktu, dia kemudian langsung menuju ke istana raja dan berkehendak menghadap Sang Prabu Harjuna Sasrabahu. Setelah diperkenankan menghadap, maka dengan sikap tunduk menghormat menghadaplah Sumantri di duli Sang raja Maespati “Heh bocah bagus kang nembe prapta. Aja sira nganggep ingsun tumambuh, awit katemben iki ingsun nyumurupi ing sira. Saka ngendi sira lan apa mungguh wigatine dene kumawani marak seba ana ing ngarsaku” “Sinuwun, kula wingking saking pertapan Jatisarana, atmaja Sang Resi Swandagni, nami kula Bambang Sumantri. Sewu lepat dene kula kumawantun sumalonong sowan ing ngarsanipun ingkang sinuwun. Mugi wontena suka lilaning panggalih, waleh-waleh menapa, sotaning manah kula badhe suwita, ngenger-ngiyup ing ngandhaping pepada paduka sinuwun. Senajanta kadadosna pekathik pangariting suket – pangeroking kudha, sukur bage lamun kula katampi dados tamtamaning praja” kata-kata yang keluar dari Sumantri begitu teratur, runtut dan tertata serta sesuai dengan tata susila menunjukan sebagai seorang yang berpendidikan baik. “Sumantri, purwa madya wasana wus mboya karempit aturira. Nanging kawruhana, para pamagangan kuwi kudu kawuningan luwih dhisik dening patih wasesaning praja yaiku Patih Surata. Borong kawicaksanan tak pasrahake marang sira, Patih Surata” kemudian Sang Prabu menyerahkan urusan kepada Patih Surata, yang kemudian segera menjelaskan kepada Sumantri “Ngger Bambang Sumantri, awit saka keparenge gusti ratumu Prabu Harjunasasra. Aku kang tinanggenah ngrampungi perkara. Ala lamun mbalekake wong kang arsa suwita ing ratu lan tulus lahir batin duwe karep utama angayahi pakaryaning praja. Sumantri, wajibe kang arsa suwita ing ratu, sira datan kena minggrang-minggring nggonira angayahi wajib nyangkul jejibahan, sira kudu manut setya tuhu miturut sapakon. Sira aja angresula menawa kajibah ing pakaryan kang abot, sabab pangresula kuwi surasane amung lumuh ingaran luput. Sira uga aja tumindak cilik anduwa, gedhene andhaga marang titahing nalendra. Lamun sira tumindak kang mangkana, bakal gedhe pidananing ratu tumrap marang sira” Sareh Patih Surata amijangake. “Nuwun inggih gusti Patih. Sedaya atur paduka Gusti Patih, samendhang mboten wonten ingkang karempit. Sampun kula tampi jangkep lan sedaya pangandika Paduka Gusti Patih kula pundhi” “Mangertiya Sumantri, ora sethithik cacahing nomnoman kang wus nembung nyuwun suwita ing raja. Nanging Ingkang Sinuwun durung ana wanci kanggo nampa kabeh suwitane, amarga ing dina kiwari iki, Praja Maespati kaya dene ketaman grahana surya. Petenging penggalih Prabu Harjuna Sasrabahu ora gampang dipadhangake, senajana ta dening Dewa angejawantah bebasane”. “Menapa Paduka Gusti Patih suka paring katrangan menapa ingkang dados sungkawaning penggalih. Sandeyaning manah kawula, menawi saged katampi pangengeran kula, keparenga kula ambiyantu caos pepadhang, angentheng-enthengi bot repot ingkang kasandhang dening Gusti Prabu Harjuna Sasrabahu”. “Sumantri, kalamun sira mengko ditampik, sira aja ngresula, nanging umpama ditampa, sira aja kaladuk gambira. Sabab purba ana ing tanganku nanging wasesa dumunung ing astane Sang Prabu Harjunasasra. Surya kang ketaman grahana ing Maespati bakal bali sumilak padhang, yenta ana sawijining pawongan kang sembada ngilangake tri prakara kang kasandhang ing Negara Maespati. Kawruhana angger Sumantri, dina iki keh para kawula ing Maespati lagya nandang kasangsayan. Sabab lemah sawah lan pategalan tan ana kang bisa tinanduran. Lemah kang samau loh, saiki dadi cengkar, nela. Sabanjure dadi papan pandhelikane ama lan kewan gegremetan kang mawa wisa. Tanem tuwuh tetanduran gogrog tumuli pusa. Senanjanta tlaga kang samau tirtane megung, ing wektu saiki sasat asat, tan ana sesa senanjanta amung sajembaring godhong waru. Kaping pindhone, wasitaning Jawata kang dumeling ing talingane gustimu Sri Harjuna Sasrabahu, negara bakal pulih kaya wingi uni, lamun Gustimu Prabu wus keduga amboyongi Putri ing Magada, Dewi Citrawati” sementara dihentikan dahulu penjelasan Patih Surata kemudian dilihatnya bagaimana respon dari Bambang Sumantri. Yang dilihatnya, hanya duduk tepekur dengan sikap sebagai pendengar yang hendak memahami apa yang terima oleh telinagnya. “Nanging uga sira mesthi sumurup, ing dina saiki Negara Magada wus kinepung dening raja sewu negara, kang darbe karep kang padha, yakuwi ngayunake Sang Raja Putri”. Patih Surata mengakhiri penjelasannya dengan menghirup nafas dalam-dalam seolah telah terlepas beban di dada. Dipandangnya anak muda di depannya itu, dan yang dipandang akhirnya tanggap bahwa telah selesai penjelsan Sang Patih. Dengan keyakinan penuh dan suara mantab, Bambang Sumantri kemudian berkata dengan beraninya “Nuwun Gusti Patih lan Sinuwun Prabu Harjuna Sasrabahu, kalilanana kula sumalonong mboten pinarentah anyagahi angentas perkawis ingkang sampun Gusti Patih angandika-aken. Ingkang sepisan, keng abdi suka pambiyantu bab bot repoting kawula negari Maespati. Kaping kalih kula sagah ngwangsulaken para nalendra ingkang sampun tunggal kersa ngalap dewi Citrawati, angepung Nagari Magada. Kaping tiga kula angajap, sageda waluya katemahan jati, pepeteng ingkang ngalimput nagari Maespati, menawi kula saged mboyong sekaring kedhaton negari Magada, ingaturan dhumateng jengandika gusti kula Prabu Harjuna Sasrabahu. Andungkap titi wanci menika, keparenga ingkang abdi jumangkah nuju ing Nagari Magada. Nrenggalangi mengsah, amunah kasektenipun para nalendra sewu nagari. Perkawis menika sampun ta kagalih awrat. Keparenga Gusti Prabu lerem wontening praja kewala. Mboten sisah Paduka jengkar saking praja ngrabasa prang nrenggalangi para nalendra sewu negari. Inggih ta lamun mangke paduka saged unggul ing ngayuda”. Kecewa sungguh Sang Harjuna Sasrabahu melihat keangkuhan orang muda yang sebelumnya begitu menarik hatinya. Seolah di dengarnya suara geledek di angkasa yang mengagetkan dirinya, saat mendengar pungkasan kata-kata Sumantri yang begitu berani mengagungkan diri dan begitu rendah menilai orang lain. Kemudian Sang Prabu beranjak dari dampar dan berjalan pelan-pelan melangkah dan membelakangi Sumantri seraya berkata kepada Patih Surata “Kakang Patih Surata, rumangsa ribet rasaning atiku lan sepet paningalku yenta nyawang wujude Bambang Sumantri kang kaduk piangkuh. Yenta nyata kesaguhane bisa ngentasi gawe kaya kang ingsun kersaake, bakal gedhe ganjarane. Nanging yenta luput kaya kang disaguhake, bumi Maespati aja nganti kaambah dening wujude manungsa kang aran Bambang Sumantri. Sadurunge mangkat marang Negara Magada, busanane Sumantri kang ngenek eneki kuwi, salinana cara kaprajurtian. Ujubing atiku ora arep ambebagus marang wujude Bambang Sumantri, nanging kanggo rumeksa kuluhuraning jenengingsun. Negara Maespati aja nganti asor darajate, darbe caraka kang busanane ora mingsra”. Demikian perintah dari Sang Prabu untuk mengakiri sidang agung. Dengan menghaturkan sembah, kemudian Sumantri mundur dari paseban diikuti oleh Patih Surata utuk segera berganti busana keprajuritan. Sawusnya Bambang Sumantri wus sangkep salin busana kaprajuritan, sakala katon tejaning Bambang Samantri saya anggenguwung. Sarira kang wus binusanan cara kaprajuritan, sangsaya mencorong, cinandra kaya dene dewa ndharat. Cingak kang pada nguntapake budhaling caraka kang tetela anggung akarya sengseming para kang aningali ing sadalan-dalan. Para kenya kang wani anyaketi unggyaning Bambang Sumantri pada anjejawat, nanging ana saweneh kang amung wani angawe-awe ngujiwat. <<< ooo >>> (Versi lain) Prabu Arjunawijaya segera merundingkan petunjuk dewa itu dengan patih dan para panglima perangnya. Sang Prabu bermaksud untuk mengutus patih Kartanadi melamar Dewi Citrawati dengan tugas meminang Dewi Citrawati sekaligus mengusir Prabu Darmawasesa dari negeri Widarba. Sementara perundingan itu berlangsung, datanglah menghadap Bambang Sumantri. Seraya menghaturkan sembah dia berkata “Gusti Prabu yang senantiasa kami sembah dan junjung tinggi, hamba datang dari pertapaan Argasekar, putra Bagawan Suwandagni. Nama hamba Bambang Sumantri, datang bersembah di hadapan Sri paduka dengan permohonan untuk diterima mengabdi. Jiwa dan raga kan hamba pertaruhkan untuk mengemban tugas apapun yang paduka perintahkan.” “Bambang Sumantri, keinginanmu untuk mengabdi kepadaku dan negri Maespati ini aku sangat hargai. Namun mengingat saat ini tengah ada permasalahan yang sedang kami hadapi, dan setelah melihatmu walau engkau baru datang sekali, aku telah merasa suka dan percaya akan kemampuanmu, maka pengabdianmu akan aku terima bilamana engkau berhasil menyelesaikan tugas yang akan kuberikan pada¬mu.” Jawab Sang Prabu ”Hamba bersedia melaksanakan tugas yang akan sri paduka berikan. Selanjutnya hamba menantikan sabda Paduka tentang tugas itu” kata Sumantri dengan tegas dan bersemangat. “Sumantri, engkau aku tugaskan melamar Dewi Citrawati, puteri Prabu Citragada di negeri Magada. Namun perlu engkau ketahui, ribuan satria dan raja berlomba-lomba untuk menjadi tambatan hatinya. Dan sebagian dari mereka, hendak memaksakan kehendaknya melalui jalan peperangan dengan membawa bala tentaranya. Sementara peperangan masih dapat dihindarkan oleh Prabu Citragada dengan mengulur-ulur waktu. Namun kalau dibiarkan berlarut-larut tentu kesabaran raja seribu negara itu bakal habis. Tugasmu berikutnya adalah membantu prabu Citragada untuk mengusir mereka semua dari negara Magada dan memboyong Dewi Citrawati untuk aku jadikan sebagai permaisuri di Maespati.” “Hamba sanggup Sinuwun, walau jiwa hamba menjadi taruhannya.” “Sumantri, engkau tidak aku perintahkan untuk menyerahkan nyawa di sana, namun aku perintahkan untuk melaksanakan tugas tadi sampai berhasil dengan sukses. Maka segera berangkatlah, kuiringi puji doa dan restu. Dan untuk mendampingimu, kuperintahkan patih Kartanadi dan balatentara Maespati menyertaimu menuju negri Magada.” <<< ooo >>> Ramayana [24] Maka berangkatlah wadya bala Maespati dengan dipimpin oleh Sumantri menuju Magada. Sesampai disana, utusan Maespati diterima dengan penuh kegembiraan oleh Prabu Citragada seolah bak penerang di gelap malam yang tengah menaungi suasana hati Sang Prabu dan juga negri Magada bakal aman tentram lagi seperti sedia kala. Singkat cerita, maka Sumantri kemudian mampu mengusir para raja dan satria yang berkehendak memboyong Bunga Kedaton Dewi Citrawati, terutama Prabu Darmawasesa dari negri Widarba yang memiliki bala tentara kuat. Sumantri memang memiliki kedigdayaan yang luar biasa sehingga Prabu Darmawasesa yang terkenal sakti mandraguna-pun, takluk bertekuk lutut di bawah krida Sumantri. Dan kemudian di boyonglah Dewi Citrawati ke Maespati. Namun selama perjalanan, benak Sumantri gelisah berfikir tentang apa yang dialaminya. Bagaimana tidak ? Dengan kekuatannya sendiri, dia mampu mengalahkan musuh-musuhnya sehingga mampu menunaikan tugas yang diembannya. Dewi Citrawati dapat diboyong karena hasil kerjanya, lalu mengapa harus diserahkan kepada Sang Prabu Harjuna Sasrabahu ? Alangkah enaknya jadi Prabu Harjuna Sasrabahu yang duduk manis tanpa keluar keringat kemudian menerima anugerah berupa Dewi Citrawati. Jiwa mudanya bergolak ! Kesombongannya tiba-tiba menyeruak. Dikatakan dalam hati “Inilah Sumantri ! Pemuda sakti mandraguna, pilih tanding tiada lawan sebanding, gagah rupawan tiada cela. Masak cuman menjadi caraka negri Maespati, alangkah nista dan tercelanya ! Mungkin Sang Prabu Harjuna Sasrabahu-pun tidak akan mampu menghadapi olah kridaku ! Lalu mengapa aku harus menyerahkan Dewi Citrawati yang adalah hasil kerja kerasku kepada Sang Prabu ? Betapa bodohnya diriku !” Sikap adigang adigung adiguna mencengkeram jiwa Sumantri. Saat mendirikan pesanggrahan di tapal batas Maespati, Patih Surata menjemput rombongan caraka yang telah berhasil memboyong Sang Dewi. Namun Patih Surata sungguh terkejut mendengar sendiri apa yang dikatakan oleh Sumantri : “Paman Patih, aku mau menyerahkan Dewi Citrawati pabila Sang Prabu sendiri yang menjemputnya disini !” “Lho … lho … lho … Sumantri … apa maksudmu ini. Kok jadi begini ! Bukankah engkau sendiri yang meminta untuk mengabdi di Maespati dan Sang Prabu menerimanya dengan persyaratan engkau sanggup untuk memboyong Dewi Citrawati untuk dijadikan sebagai permaisuri Maespati ? Lha …. sekarang kok malah begini, engkau malah nglunjak, apa yang terjadi, Sumantri ?” “Sudah, tidak perlu banyak omong, pokoknya sampaikan apa kata-kataku ini kepada Sang Prabu seutuhnya, tidak perlu engkau kurangi atau engkau lebihkan !” “Ingat Sumantri, aku sebagai orang tua dan telah lama mengabdi kepada gusti Prabu mengingatkan kepadamu bahwa perbuatanmu itu tidak selayaknya engkau lakukan” “Aku tidak takut !” “Benar aku percaya kepada kedigdayaanmu, tapi kalau dibandingkan dengan Sang Prabu, tentu engkau akan menjadi pecundang, Sumantri” “Tidak peduli, itu hanya omonganmu yang menakut-nakuti aku agar aku tidak memperoleh hakku” “Bukankah Dewi Citrawati itu adalah hak milik Sang Prabu seperti yang telah kita sepakati sewaktu engkau hendak berangkat ke Magada ? Bukankah engkau telah berjanji kepada Sang Prabu untuk menyerahkannya pabila engkau berhasil memboyong Sang Dewi ? Ingat Sumantri, mulutmu sendiri yang mengatakan demikian. Engkau seorang satria, engkau seorang laki-laki, tentu engkau tahu apa artinya sebuah janji yang telah diucapkan” “Semua itu adalah masa lalu, saat ini adalah sesuai dengan pikiran dan kehendakku !” “Oh … Sumantri … Sumantri … aku sangat menyesal akan sikapmu ini. Sekali lagi, aku ingatkan untuk menyadari kedudukanmu, mumpung belum terlambat” “Tidak perlu engkau turut campur ! Aku telah dewasa dan mampu berfikir secara benar dan semua tanggung jawab ada dipundakku pribadi. Tugas paman hanyalah menyampaikan apa yang telah kukatakan tadi kepada Sang Prabu !” Dengan hati penuh penyesalan, Patih Surata kembali ke kerajaan Maespati untuk melaporkan semuanya kepada Prabu Harjuna Sasrabahu. Rumangsa wus bisa ngregem jagad, sawusnya bali marang praja, Sumantri kedadak nanting kasudibyan Sang Prabu srana pasemon alus. Kaya pineksa Sang Harjuna Sasrabahu nglanggat pamundhute Bambang Sumantri tandhing tysa. Supaya ora asor drajate dene mungsuh kang amung wujuding caraka, mula Sang Prabu ngloropake busana keprabon, murih ka anggo busana dening Bambang Sumantri. Nalika tandhing kekarone, para jawata padha tumurun nyekseni paprangan, kang yen kadulu saka ing kadohan kaya dene tetandingan yuda antarane para ratu kang kembar wewujudane. Mangkana tandhing Sang Harjuna Sasrabahu lumawan Bambang Sumantri dedreg silih ungkih rebut unggul. Nalika samana Bambang Sumantri ganti kalindhih, Bambang Sumantri musthi sanjata Cakrabaswara. Sanjata dibya kang ampuhe kagila-gila. Mulat Bambang Sumantri kang wus siyaga menthang gendewa nglarapake senjata dibya, nuli Sang Prabu matak aji Triwikrama. Cinandhak wani sarirane Bambang Sumantri, tan mangga puliha Bambang Sumantri nuli kapikut. Nanging jroning batin Sang Prabu kang wus kaduk ngungun marang kasektene Bambang Sumantri, mula nulya diparingi aksama. Nanging paukuman kudu anut marang jejeging adil. Bambang Sumantri kang wus pasrah dhiri, dipatrapi paukuman. Paukumane kang kaya-kaya ora salumrahe, nanging Sang Prabu percaya lamun Bambang Sumantri saguh minangkani. Bambang Sumantri kudu keduga mindhah Taman Sriwedari kang dumunung ing imbanging gunung Untarayana, kudu kaboyong marang taman sari Negara Maespati, kinarya lipuring manah Dewi Citrawati kang katemben pisah lan wong atuwane. Sungkawaning ati Bambang Sumantri nalika samana sakala kedadak ganti ing bebungah, nalika kelingan marang sedulur mudha, Bambang Sukasarana. Sedulur mudha kang duk inguni kasimpe sabab kinira amung ngrubeda-angreridhu lan anjejereng wirang amarga darbe wewujudan kang anggelinani. Paminta srayane Sumantri mindhah Taman Sriwedari tumuju ing Praja Maespati marang Sukasarana sinaguhan, amung kudu liniru lilane kadang werdha tansah cinaket. Sakala pamintane keng rayi Bambang Sukasarana kaya dene amung bab kang sinangga entheng. Nanging welinge Bambang Sumantri kalawan Sukasarana, yen mengko wus keduga mboyongi taman, aja nganti kawuningan luwih disik wewujudane dening sanggyaning para kawula ing Maespati Ya … Bambang Sumantri telah diselamatkan hidupnya oleh adiknya sendiri Sukasarana yang begitu mengagungkan dan mencintai dirinya. Tubuh pendek Sukasarana, wujud buruk rupa sang adik, ternyata mampu melaksanakan pekerjaan yang bisa dikatakan mustahil dilakukannya. Memindahkan taman Sriwedari dengan mudah dilakukan Sukasarana. Gelise kang munggel kawi, kaleksanan Sukasarana mboyongi Taman Sriwedari marang Negara Maespati. Nalika samana Dewi Citrawati kang kepareng nitipriksa gelaring taman Sriwedari kang nembe kaputer-puja, ingayap sakehing para emban cethi. Sakala mekar sakehing kusuma, manglung kang panging kekayon kasilir ing samirana mandra. Keh peksi-peksi kang miber ing gegantang padha pating caruwet manembrama kang kersa tindak cangkrama. Kombang kombang mbrengengeng kaya asung kekidung, saka kepranan marang liringing netrane sang pramensywari. Senajanta sesekaran pada mekrok rebut warna ngujiwat minta sang dewi kersaa methik kinarya sesumping. Rena panggalihe Sang Dewi kang tindake saya manengah kepranan marang edi endahe kang taman Sriwedari, kang tetela kaya dene endahing taman ing swargaloka. Nanging kacarita, sakala kejot panggalihe Sang Dewi, nalika mulat ana pawongan bajang ceko kang pasuryane anggegirisi dumunung ing jroning taman. Tetela iku wujuding Bambang Sukasarana kang tan kuwawa angampah hardaning karep, marepeki wanita kang banget sulistyaning warna. Gya Bambang Sukasarana miyak kang grumbul sangandhaping wit nagasari, nyaketi ungyaning Sang Dyah Pramesywari. Girap girap sarwa anjelih-jelih Sang Prameswari keplayu kamigilan, matur marang Sang Harjuna Sasrabahu. Nuli Sang Prabu matah marang Patih Suwanda kinen ngrampungi gawe, nyirna’ake dhemit kang dumunung ana ing sajroning taman sari Nalika samana duka yayah sinipi Bambang Sumantri marepeki papan padunungane Bambang Sukasarana. Jroning batin wus tan samar lamun Bambang Sukasarana kang gawe gendra, suwala marang dhawuhe yen ta ora kena metu saka sesingidan. Wus prapta ing papan dununge Bambang Sukasrana kang sigra mulet unggyane kang raka sarwi matur “Ayo kakang Sumantri, apakah aku sudah bisa diterima oleh Prabu Harjuna Sasrabahu. Bila engkau telah diterima mengabdi, harusnya akupun demikian, kakang !” Namun perkataan Bambang Sukasarana tidak digubris oleh kakaknya, Bambang Sumantri, yang tengah diliputi amarah. Dengan suara keras dan bengis dibentaknya adiknya itu : “Kamu sebelumnya sudah aku perintahkan untuk apa !”


Ramayana [25]

Dengan wajah tanpa dosa serta memang hati begitu berbahagia sua kembali dengan kakaknya tersayang, dengan riang dan ringan Sukasarana berucap :“Engkau perintahkan aku untuk bersembunyi di bagian yang paling tersembunyi di taman ini” Sebenarnyalah, di dasar hati Sumantri timbul rasa kasihan kepada adiknya itu. Apalagi karna jasa adiknya itulah maka dia sekarang diterima mengabdi di Maespati. Dan kesalahan fatalnya karena pernah membangkang kepada Prabu Harjuna Sasrabahu, dapat dimaafkan hanya karena bantuan adiknya yang begitu lugu itu. Sehingga dengan suara perlahan kemudian Sumantri berkata : “Adikku yang sangat kusayangi, mengertilah bahwa kakakmu diberi kewajiban untuk menjaga keamanan disini. Engkau tadi membuat Kusuma Ratu terkejut dan takut melihat keberadaanmu. Ayolah adikku yang baik, kakang akan mengantarkanmu kembali ke Pertapan Jatisrana. Nanti kalau waktunya sudah tepat, engkau akan aku susul lagi untuk menghadap Prabu Hrajuna Sasrabahu” “Emoh kakang, yen aku bali, kowe ya kudu bali. Nalika samana kakang nyimpe aku tanpa pamit, kaya pecat-pecata sukmaku. Mangertiya kakang, mbiyen kuwi aku nangis meh sepasar suwene. Tak goleki seprana-seprene nanging saiki sikakang bakal mbalekake aku maneh marang Pertapan. Oooh kakang, kaya ngapa rasa sepining ati, yenta aku pisah kalawan kowe kakang” Sukasrana segera menolak permintaan kakaknya itu. Wajahnya bocahnya sudah terlihat ketakutan bakal tak bertemu lagi dengan . Mendengar jawaban itu, amarah Sumantri kembali menyelimuti dirinya. Walaupun dia sadar bahwa sikap adiknya itu memang sudah sewajarnya dan dia sangat mengetahui hal itu, namun kini dia mempertaruhkan kedudukannya di Maespati sekarang kalau terlalu mengikuti apa kata adiknya itu. “Sukasrana ! Jangan membuat kakakmu marah ! Ayo sekarang engkau ikut aku kembali ke Rama Begawan ! “Emoh Kakang Sumantri, aku tetap ingin bersamamu. Apakah kakang tega melihat adikmu nanti menangis terus sepanjang hari karena rindu kepadamu kakang” Amarah Sumantri semakin meluap, apalagi didengarnya suara bendhe yang mengabarkan bahwa sebentar lagi Sang Prabu bersama Prameswari akan mengunjungi taman untuk bercengkerama. Pikirannya sudah gelap. Yang dilihatnya hanyalah wujud adiknya yang mengganggu kerjanya saja. Adiknya sungguh keterlaluan karena tidak mengerti akan posisinya sekarang. Di tengah kekalutannya itu, maka jumangkah Bambang Sumantri, akeh wuwusnya Bambang Sumantri sarwi anjempalani sarirane Bambang Sukasarana. Bambang Sukasarana amung pasrah dhiri senajan sarirane wus babak-bunyak, nanging tan ana pangresula senajan amung sakecap, kawetu saka lathine Sukasarana. Bambang Sumantri kang wus tan enget marang pamintane kang angarih-arih inguni, minta pambiyantu mindhah Taman Sriwedari, panggah ngrudapeksa Bambang Sukasrana nundhung kang rayi, amarga jrih marang gusti natane, aja nganti anjejereng sasra wirang. Saya sigug-kidhung goreh rasane Bambang Sumantri kang sigra angagar agari jemparing marang Bambang Sukasrana, pepethane karya ngurak Bambang Sukasarana supaya age-age lunga saka patamanan. Sedhela-sedhela Bambang Sumantri tumoleh wuntat sekedhap sekedhap nyawang unggyane Bambang Sukasarana kang amung mandeng kang raka kanthi netra kang panggah kumedhep. Jroning nala Bambang Sumantri kaya rinujit, nanging bawane wus saguh ngayahi dhawuhing nalendra lan krasa luput yen bakal nampa bebendu, sakala dres wijiling riwe kaya dineres. Sangsaya lunyu cepenging warastra, nanging lenging rasa kaya wus ilang musna. Ponang warastra kang wus mapan ana ing kekendheng sakala mrucut saka astane. Tumama jajaning Bambang Sukasarana butul ing walikat. Raga gumuling ing siti, ngalumpruk tanpa daya. Dres kang ludira muncrat saka ing jaja. Nanging ana kaelokaning jagad, raga kang sadina-dina angganda bebanger, parandene ludiraning Bambang Sukasrana tetela arum mangambar ngrabasa sakehing durgandana. Kedhep tesmak Bambang Sumantri mulat sesawangan kang ana telenging netrane, sabab dene kaya kacabut sukmane. Angles kekes rasane Bambang Sumantri kaya wungu saka nendra sigra rinangkulan jasade Bambang Sukasrana kang nandhang katriwandhan. Tetela nalika samana wus sirna marga layu Bambang Sukasarana. Bundhu bundhelaning manah Bambang Sumantri kang kaocap amung rerepa jroning panalangsa. “Adiku Di … Sukasrana engkau ampunkan kakakmu ini, tak kusangka engkau bakal jadi begini … Adiku Di … maafkan aku Di …” Tiba-tiba terkejut Bambang Sumantri saat mendengar suara yang begitu jelas di telinganya : “Heh Bambang Sumantri! “ Bambang Sumantri berdiri seraya kepalanya menoleh kanan dan ke kiri untuk mencari sumber suara : “Kamu siapa !?” “Aku Bambang Sukasrana!! Sagluguting kolang kaling sarambut pinara sasra aku ora nduwe rasa serik-murina lawan kowe kakang. Nanging kaya kang wus tak aturake marang kowe, yen ta aku ora kena ginggang sarambut kalawan kowe. Aku ora bakal tumuli sowan ing pangayunaning para Dewa, yen ora bareng kalawan kowe, kakang Sumantri. Tak enteni ana bokur pangarip-arip. Nanging elinga, menawa ing tembe kowe prang tandhing lan Raja Ngalengka Diraja, ing kana wahyane kowe tak susul sowan marang ing tepet suci. Wis kaya mung semene anggonku matur marang kowe kakang, tumuli si kakang ngadhepa marang Sang Prabu Harjuna Sasrabahu”. Setelah hilangnya suara itu, seiring dengan semilir angin yang berhembus di tempat itu, jasad yang terbujur kaku itu secara perlahan hilang tak berbekas didalam pandangan Bambang Sumantri. Bambang Sumantri berdiri terpaku tiada bergerak sedikitpun. Jiwanya melanglang entah kemana, hanya sesal yang begitu dalam tersisa di hatinya. Nasi telah menjadi bubur. Disesalinya perbuatannya tadi, namun apa daya semua telah terjadi. <<< ooo >>> Dan sejak peristiwa itu, maka kemudian Bambang Sumantri diangkat menjadi Maha Patih Maespati dengan gelar Patih Suwanda. Jabatan patih dijalani oleh Patih Suwanda dengan sangat baik sehingga semakin hari semakin sayang Sang Prabu kepada dirinya. Hingga suatu saat, muncullah malapetaka bagi negri Maespati. Diawali oleh laporan mata-mata musuh yang mengabarkan bahwa Raja Maespati sedang tidak berada di praja sehingga negara sedang lemah. Mata-mata dari negara manakah itu ? Tiada lain adalah dari negri Ngalengka Diraja. Sungguh tidak pernah reda sifat adigang adigung adiguna Sang Rahwanaraja. Segala keinginannya harus segera terpenuhi, tak peduli walau itu bertentangan dengan tata susila maupun melalui pertumpahan darah sekalipun. Kali ini Sang Dasamuka tengah kasmaran oleh Dewi Citrawati, yang tiada lain telah menjadi permaisuri Sang Harjuna Sasrabahu. Dasamuka mengupayakan segala daya untuk merebut penjelmaan Dewi Widawati itu. Ringkasan Cerita Ramayana Wiracarita Ramayana menceritakan kisah Sang Rama yang memerintah di Kerajaan Kosala, di sebelah utara Sungai Gangga, ibukotanya Ayodhya. Sebelumnya diawali dengan kisah Prabu Dasarata yang memiliki tiga permaisuri, yaitu: Kosalya, Kekayi, dan Sumitra. Dari Dewi Kosalya, lahirlah Sang Rama. Dari Dewi Kekayi, lahirlah Sang Bharata. Dari Dewi Sumitra, lahirlah dua putera, bernama Lakshmana dan Satrugna. Keempat pangeran tersebut sangat gagah dan mahir bersenjata. Pada suatu hari, Rsi Wiswamitra meminta bantuan Sang Rama untuk melindungi pertapaan di tengah hutan dari gangguan para rakshasa. Setelah berunding dengan Prabu Dasarata, Rsi Wiswamitra dan Sang Rama berangkat ke tengah hutan diiringi Sang Lakshmana. Selama perjalanannya, Sang Rama dan Lakshmana diberi ilmu kerohanian dari Rsi Wiswamitra. Mereka juga tak henti-hentinya membunuh para rakshasa yang mengganggu upacara para Rsi. Ketika mereka melewati Mithila, SangRama mengikuti sayembara yang diadakan Prabu Janaka. Ia berhasil memenangkan sayembara dan berhak meminang Dewi Sita, puteri Prabu Janaka. Dengan membawa Dewi Sita, Rama dan Lakshmana kembali pulang ke Ayodhya.Prabu Dasarata yang sudah tua, ingin menyerahkan tahta kepada Rama. Atas permohonan Dewi Kekayi, Sang Prabu dengan berat hati menyerahkan tahta kepada Bharata sedangkan Rama harus meninggalkan kerajaan selama 14 tahun. Bharata menginginkan Rama sebagai penerus tahta, namun Rama menolak dan menginginkan hidup di hutan bersama istrinya dan Lakshmana. Akhirnya Bharata memerintah Kerajaan Kosala atas nama Sang Rama.  Rama hidup di hutan Dalam masa pengasingannya di hutan, Rama dan Lakshmana bertemu dengan berbagai raksasa, termasuk Surpanaka. Karena Surpanaka bernafsu dengan Rama dan Lakshmana, hidungnya terluka oleh pedang Lakshmana. Surpanaka mengadu kepada Rawana bahwa ia dianiyaya. Rawana menjadi marah dan berniat membalas dendam. Ia menuju ke tempat Rama dan Lakshmana kemudian dengan tipu muslihat, ia menculik Sinta, istri Sang Rama. Dalam usaha penculikannya, Jatayuberusaha menolong namun tidak berhasil sehingga ia gugur. Rama yang mengetahui istrinya diculik mencari Rawana ke Kerajaan Alengka atas petunjuk Jatayu. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan Sugriwa, Sang RajaKiskindha. Atas bantuan Sang Rama, Sugriwa berhasil merebut kerajaan dari kekuasaan kakaknya, Subali. Untuk membalas jasa, Sugriwa bersekutu dengan Sang Rama untuk menggempur Alengka. Dengan dibantu Hanuman dan ribuanwanara, mereka menyeberangi lautan dan menggempur Alengka.  Rama menggempur Rawana Rawana yang tahu kerajaannya diserbu, mengutus para sekutunya termasuk puteranya – Indrajit – untuk menggempur Rama. Nasihat Wibisana (adiknya) diabaikan dan ia malah diusir. Akhirnya Wibisana memihak Rama. Indrajit melepas senjata nagapasa dan memperoleh kemenangan, namun tidak lama. Ia gugur di tangan Lakshmana. Setelah sekutu dan para patihnya gugur satu persatu, Rawana tampil ke muka dan pertarungan berlangsung sengit. Dengan senjata panahBrahmāstra yang sakti, Rawana gugur sebagai ksatria. Setelah Rawana gugur, tahta Kerajaan Alengka diserahkan kepada Wibisana. Sintakembali ke pangkuan Rama setelah kesuciannya diuji. Rama, Sinta, dan Lakshmana pulang ke Ayodhya dengan selamat. Hanuman menyerahkan dirinya bulat-bulat untuk mengabdi kepada Rama. Ketika sampai di Ayodhya, Bharata menyambut mereka dengan takzim dan menyerahkan tahta kepada Rama.

 • http://wayangprabu.com/
• http://agrialittleangel.blogspot.com/2012/09/cerita-ringkas-ramayana-dan-mahabharata.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar